Ilustrasi. (TIFAPOS/Inri Getzenia Maloringan)
Oleh : Inri Getzenia Maloringan
TIFAPOS.id Beberapa tahun terakhir, rasanya mustahil untuk tidak bersentuhan dengan budaya Korea Selatan.
Mulai dari musik K-pop yang mendominasi playlist remaja, drama Korea yang menghiasi layar gawai sebelum tidur, hingga makanan Korea yang kini hadir di sudut-sudut kota Indonesia, Korean Wave benar-benar menjadi bagian dari keseharian kita.
Fenomena ini bukan sekadar soal hiburan. Di balik gegap gempita konser dan tren fashion ala oppa dan unnie, ada geliat ekonomi kreatif yang ikut bangkit.
Kafe bertema Korea menjamur, UMKM mulai memproduksi merchandise K-pop, hingga agensi lokal mulai menerapkan sistem pelatihan ala Korea untuk calon bintang baru.
Korean Wave membawa pengaruh positif yang tak bisa diabaikan. Ia mendorong pelaku industri lokal untuk berbenah, meningkatkan kualitas produksi, dan lebih memahami selera pasar global.
Tak sedikit sineas dan musisi Indonesia yang mulai berpikir untuk “go international,” terinspirasi dari bagaimana Korea memperkenalkan budayanya ke dunia lewat media populer.
Namun, di balik peluang itu, ada pekerjaan rumah yang tidak ringan. Kita perlu bertanya: di tengah derasnya budaya Korea, apakah kita masih punya ruang untuk mencintai budaya sendiri?
Apakah industri kreatif kita cukup percaya diri untuk menunjukkan warna khas Indonesia tanpa merasa harus “berbau Korea” agar laku?
Korean Wave seharusnya menjadi cermin dan pemicu, bukan bayangan yang membayangi. Kita bisa belajar dari strategi Korea, bagaimana mereka membungkus budaya lokal menjadi produk global yang relevan.
Indonesia pun punya kekayaan budaya yang luar biasa, tinggal bagaimana kita mengemasnya dengan cara yang segar, modern, dan berdaya saing.
Karena di tengah gelombang Hallyu yang besar, ada peluang untuk menciptakan gelombang kita sendiri. Bukan untuk meniru, tapi untuk tampil percaya diri dengan identitas sendiri.
Dan, dengan peluang yang kita ciptakan sendiri, mungkin kita bisa mengubah kata “Korean wave” menjadi ”Indonesia Wave”
(Penulis adalah mahasiswa jurusan Hubungan International Universitas Cenderawasih Jayapura)






