Satpolair Polresta Jayapura Kota bersama Tim SAR dan masyarakat mengevakuasi korban serangan buaya. (TIFAPOS/Istimewa)
Ringkasan Berita
• Korban diserang buaya saat berenang menyeberangi sungai untuk menyelamatkan perahu kayu tradisional (kole-kole) yang hanyut.
• Berlangsung berjam-jam hingga menemukan korban lemah di tepi sungai, 500 meter dari lokasi insiden.
• Hindari berenang/mendekati sungai berhabitat buaya, utamakan keselamatan untuk kamtibmas aman.
SATUAN Polisi Air (Satpolair) Polresta Jayapura Kota bersama Tim Search and Rescue (SAR) gabungan, berhasil menemukan dan mengevakuasi korban yang dilaporkan hilang di Sungai Skow Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.
Berdasarkan rilis Humas Polresta Jayapura Kota, Kamis, 12 Februari 2026, pencarian yang berlangsung Rabu, 11 Februari 2026 melibatkan berbagai unsur.
Termasuk Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Polsek Muara Tami, Pos Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Babinsa, serta masyarakat setempat dari Kampung Skow Sae.
Kejadian bermula dari laporan Selasa, 10 Februari 2026 malam, seorang warga negara Papua Nugini (PNG) dilaporkan hilang saat berenang menyeberangi Sungai Skow Sae untuk mengambil perahu kayu tradisional (kole-kole) yang hanyut terbawa arus sungai.
Berdasarkan keterangan rekannya yang selamat, korban bersama temannya berusaha menyelamatkan perahu tersebut dengan cara berenang melintasi aliran sungai yang deras.
Namun, saat berada di tengah sungai, korban tiba-tiba diserang oleh buaya, menyebabkannya hilang dari pandangan.
Rekan korban segera melaporkan insiden tersebut ke Polsek Muara Tami untuk mendapatkan bantuan segera.
Sungai Skow Sae, yang terletak di perbatasan Kota Jayapura dengan wilayah Papua Nugini, dikenal sebagai sungai yang memiliki arus kuat dan merupakan habitat alami bagi satwa liar seperti buaya.
Kejadian serupa sering terjadi di daerah ini, terutama di musim hujan ketika debit air sungai meningkat, sehingga meningkatkan risiko bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitarnya.
Polsek Muara Tami, sebagai pihak pertama yang menerima laporan, segera mengkoordinasikan dengan Satpolair Polresta Jayapura Kota untuk membentuk Tim SAR gabungan.
Tim ini terdiri dari personel berpengalaman yang dilengkapi dengan peralatan pencarian seperti perahu karet, alat komunikasi, dan perlengkapan keselamatan.
Pencarian dimulai sejak dini hari Rabu dan dilakukan secara sistematis, dengan membagi area sungai menjadi beberapa sektor.
Basarnas memberikan dukungan teknis melalui drone dan tim penyelam, sementara Pos TNI AL menyediakan logistik dan tenaga tambahan.
Babinsa dari Koramil setempat turut serta dalam koordinasi dengan masyarakat Kampung Skow Sae, yang memiliki pengetahuan lokal tentang kondisi sungai.
Masyarakat setempat, yang akrab dengan ekosistem sungai, berperan penting dalam memberikan informasi tentang titik-titik rawan dan membantu navigasi.
Setelah berjam-jam pencarian intensif, Tim SAR akhirnya menemukan korban dalam kondisi lemah di tepian sungai, sekitar 500 meter dari lokasi kejadian awal.
Korban segera dievakuasi ke darat dan diberikan pertolongan pertama oleh tim medis sebelum dibawa ke rumah sakit terdekat untuk perawatan lebih lanjut.
Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Fredrickus W.A Maclarimboen, S.I.K., M.H., CPHR, menekankan pentingnya kolaborasi antara kepolisian, TNI, Basarnas, dan masyarakat.
“Kegiatan ini menunjukkan komitmen Polri dalam memberikan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat, terutama di daerah perbatasan yang rawan risiko,” ujar ujar Kapolresta.
Kapolresta juga mengimbau warga agar lebih waspada saat beraktivitas di sekitar sungai.
“Hindari berenang atau mendekati air di habitat buaya. Keselamatan jiwa harus diutamakan. Polri siap bersinergi dengan semua unsur untuk menjaga kamtibmas aman dan kondusif,” ujar Kapolresta.
(lrm/danu)






