Mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura, Hasni Rachman, S.Pd., Gr. (TIFAPOS/Ist)
Oleh : Hasni Rachman, S.Pd., Gr
TIFAPOS.id Kemampuan literasi dasar membaca dan menulis merupakan salah satu indikator utama dalam menentukan keberhasilan peserta didik dalam menempuh jenjang pendidikan selanjutnya.
Di tingkat Sekolah Dasar, literasi menjadi fondasi penting bagi pembentukan pola
pikir, perkembangan kognitif, serta keterampilan komunikasi siswa.
Tanpa kemampuan membaca dan menulis yang baik, siswa akan mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran lain yang secara tidak langsung mengandalkan kemampuan literasi sebagai dasar pemahamannya.
Oleh karena itu, penguatan literasi sejak pendidikan dasar menjadi hal yang sangat krusial dalam proses pembelajaran.
Meskipun literasi telah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan nasional melalui
berbagai kebijakan seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan penerapan Kurikulum
Merdeka.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa sekolah dasar masih
menghadapi tantangan dalam menguasai kemampuan dasar membaca dan menulis secara optimal.
Hasil asesmen nasional dan berbagai studi literatur menunjukkan bahwa masih
terdapat kesenjangan literasi, terutama di wilayah terpencil, daerah tertinggal, dan di
lingkungan dengan latar belakang sosial ekonomi rendah. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya keterlibatan orang tua dalam mendukung proses belajar anak di rumah.
Sekolah sebagai lembaga formal memiliki tanggung jawab dalam membangun iklim literasi yang kondusif, menyediakan sumber belajar yang memadai, dan menciptakan pembelajaran yang mendorong siswa aktif dalam membaca dan menulis.
Namun, upaya tersebut tidak akan maksimal tanpa adanya dukungan dari keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Dalam konteks ini, kerjasama antara sekolah dan keluarga menjadi faktor kunci dalam mendorong peningkatan literasi siswa secara menyeluruh.
Kolaborasi ini memungkinkan adanya kesinambungan pembelajaran antara rumah
dan sekolah, sehingga anak mendapatkan stimulus literasi yang konsisten dalam dua ruang kehidupannya.
Keluarga yang aktif dan peduli terhadap pendidikan anak akan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung tumbuhnya minat baca dan kebiasaan menulis.
Orang tua dapat menjadi role model dalam berliterasi, mendampingi anak saat belajar, serta berkomunikasi aktif dengan guru untuk mengetahui perkembangan akademik anak.
Di sisi lain, sekolah juga perlu membuka ruang dialog dan membangun strategi kolaboratif yang mengakomodasi peran serta orang tua secara bermakna.
Dengan sinergi yang kuat, proses pembelajaran literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama seluruh komponen pendidikan.
Namun, membangun kemitraan antara sekolah dan keluarga tentu bukan perkara mudah. Masih banyak orang tua yang merasa bahwa tanggung jawab pendidikan sepenuhnya berada di tangan guru.
Sebagian dari mereka juga menghadapi keterbatasan waktu, pemahaman, maupun akses terhadap sumber literasi yang layak.
Untuk itu, diperlukan pendekatan yang komunikatif, partisipatif, dan solutif agar kerjasama ini tidak hanya menjadi
formalitas, melainkan benar-benar mampu mendorong kemajuan literasi anak secara
signifikan.
Lebih lanjut, keberhasilan peningkatan kemampuan literasi dasar membaca dan
menulis tidak semata ditentukan oleh penyediaan fasilitas atau kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh komitmen bersama antara pihak sekolah dan keluarga dalam menjalankan fungsi dan perannya secara optimal.
Keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah, memberikan akses bacaan yang sesuai usia, hingga membangun rutinitas membaca bersama, terbukti berkontribusi besar dalam membentuk kebiasaan literasi anak.
Demikian pula, sekolah dituntut untuk terus berinovasi dalam menciptakan lingkungan
belajar yang menyenangkan dan menantang, serta menyediakan berbagai program literasi yang dapat melibatkan siswa dan orang tua secara aktif.
Contoh program seperti “Gerakan Membaca
15 Menit Sebelum Belajar”, “Membaca Bersama Keluarga”, atau “Hari Orang Tua
Membacakan Cerita” di sekolah, dapat menjadi jembatan penting dalam mempererat hubungan antara sekolah dan rumah, sekaligus membangun budaya literasi yang menyeluruh.
Dalam banyak kasus, ketidakterlibatan orang tua sering kali bukan karena tidak peduli,
melainkan karena kurangnya pemahaman tentang bagaimana cara efektif mendukung anak dalam berliterasi.
Oleh karena itu, sekolah juga harus memainkan perannya dalam memberikan edukasi dan pembinaan kepada orang tua melalui workshop, pelatihan, atau penyebaran modul panduan literasi keluarga.
Dengan pendekatan ini, orang tua akan lebih percaya diri dan mampu menjalankan peran mereka sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak di rumah. Di sisi lain, kolaborasi ini juga harus memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya dari masing-masing keluarga.
Pendekatan inklusif, fleksibel, dan berbasis empati sangat dibutuhkan agar program kerjasama literasi tidak menimbulkan kesenjangan baru, tetapi justru menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara adil dan proporsional.
Melalui penelitian ini, peneliti berharap dapat menggali lebih dalam bentuk-bentuk
kolaborasi yang telah dilaksanakan, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam kerjasama sekolah dan keluarga, serta menemukan strategi-strategi yang dapat diadopsi oleh satuan pendidikan dasar lainnya dalam rangka memperkuat literasi siswa.
Dengan demikian, hasil dari penelitian ini bukan hanya bersifat deskriptif, tetapi juga aplikatif dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan literasi di tingkat Sekolah Dasar.
Peningkatan kemampuan literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis secara
teknis, tetapi juga mencakup pemahaman, analisis, dan kemampuan menyampaikan gagasan secara logis dan kritis.
Oleh karena itu, investasi terhadap literasi dasar merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa. Apabila sekolah dan keluarga mampu berjalan beriringan, saling menguatkan dan berkolaborasi, maka cita-cita untuk mencetak generasi yang literat, cerdas, dan berkarakter dapat terwujud.
Selain itu, tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan literasi yang lebih komprehensif, tidak hanya dalam bentuk kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami informasi secara kritis, serta mampu mengelola dan mengkomunikasikan pengetahuan dalam berbagai konteks.
Dengan kondisi tersebut, kemampuan literasi dasar menjadi pondasi utama dalam
menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pendidikan literasi tidak dapat dibebankan hanya kepada guru di sekolah, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama harus menjadi mitra
strategis sekolah dalam membentuk kebiasaan berliterasi sejak dini.
Kegiatan sederhana seperti membacakan cerita sebelum tidur, berdiskusi tentang isi bacaan, atau menuliskan pengalaman harian anak, merupakan praktik literasi yang sangat efektif jika dilakukan secara konsisten di rumah.
Lebih jauh, kebijakan nasional yang mendorong keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, seperti Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan, juga menjadi dasar hukum yang kuat untuk mengintegrasikan peran keluarga dalam proses pembelajaran di sekolah.
Hal ini menegaskan bahwa kolaborasi antara sekolah dan keluarga bukan hanya inisiatif lokal, tetapi telah menjadi bagian dari strategi nasional dalam peningkatan mutu pendidikan. Namun, implementasi di lapangan tidak selalu berjalan mulus.
Masih banyak sekolah yang belum memiliki program atau kebijakan khusus untuk melibatkan keluarga dalam pembelajaran, khususnya dalam kegiatan literasi.
Sebaliknya, banyak pula orang tua yang belum menyadari pentingnya keterlibatan mereka dalam mendukung kemampuan membaca dan menulis anak.
Dalam kondisi ini, peran kepemimpinan kepala sekolah, guru, dan komite sekolah menjadi sangat penting dalam mendorong dan memfasilitasi kerjasama tersebut secara
sistematis dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya akademik dan praktis, penelitian ini difokuskan pada upaya
untuk menganalisis bentuk-bentuk kerjasama antara sekolah dan keluarga dalam meningkatkan kemampuan literasi dasar membaca dan menulis.
Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan kolaborasi tersebut, serta strategi pemberdayaan kedua belah pihak agar tujuan pendidikan literasi dapat tercapai secara maksimal.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model kemitraan sekolah-keluarga yang efektif,
aplikatif, dan relevan dengan kondisi Sekolah Dasar di Indonesia.
Dengan memahami kompleksitas persoalan literasi dan pentingnya sinergi antara
sekolah dan keluarga, maka sudah saatnya pendekatan dalam pendidikan literasi tidak hanya berfokus pada aspek akademik semata, tetapi juga mengakomodasi keterlibatan emosional, sosial, dan kultural dari orang tua dan lingkungan sekitar anak.
Dengan demikian, penguatan literasi dasar di sekolah dasar bukan hanya menjadi program sesaat, melainkan gerakan kolektif yang berkelanjutan demi menciptakan generasi Indonesia yang cerdas, berdaya saing, dan berkarakter.
Lebih jauh lagi, urgensi peningkatan kemampuan literasi dasar tidak hanya menyangkut persoalan akademik, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek sosial dan ekonomi masyarakat secara luas.
Individu dengan tingkat literasi rendah cenderung memiliki keterbatasan dalam
mengakses informasi, memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara, serta
berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial.
Hal ini, secara tidak langsung berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan produktivitas suatu bangsa.
Oleh karena itu, memperkuat literasi sejak pendidikan dasar merupakan langkah strategis dalam menyiapkan generasi unggul
yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dalam kerangka ini, kerjasama antara sekolah dan keluarga bukanlah sekadar bentuk partisipasi, melainkan sebuah kemitraan strategis yang dibangun atas dasar kesadaran bersama akan pentingnya pendidikan yang holistik.
Sekolah sebagai pusat pembelajaran formal
memiliki tanggung jawab untuk merancang program literasi yang terstruktur, menyediakan fasilitas yang memadai, dan menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Sementara itu, keluarga bertanggung jawab menciptakan lingkungan rumah yang mendukung proses belajar anak, membiasakan budaya membaca, serta menjadi motivator utama dalam setiap tahap perkembangan literasi anak.
Praktik-praktik baik di berbagai sekolah menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga
dalam kegiatan literasi berdampak positif terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa.
Kegiatan seperti “Pojok Baca Keluarga,” “Hari Literasi Bersama Orang Tua,” dan “Buku Harian Membaca di Rumah” telah terbukti efektif dalam membangun budaya literasi yang menyatu antara rumah dan sekolah.
Keberhasilan program-program tersebut tentu tidak terlepas dari komunikasi yang terbuka, koordinasi yang kuat, dan komitmen bersama antara pihak sekolah dan orang tua. Namun demikian, dalam implementasinya masih terdapat hambatan yang harus diatasi.
Beberapa di antaranya adalah rendahnya literasi orang tua, kurangnya waktu karena tuntutan pekerjaan, serta minimnya pemahaman mengenai peran penting mereka dalam mendukung kemampuan membaca dan menulis anak.
Oleh sebab itu, sekolah perlu melakukan pendekatan yang persuasif dan edukatif, serta menyusun strategi yang dapat menjangkau seluruh orang tua tanpa memandang latar belakang pendidikan dan sosial ekonomi.
Upaya ini dapat diwujudkan melalui penyuluhan literasi, pelatihan orang tua, dan forum diskusi rutin yang melibatkan seluruh elemen sekolah.
Akhirnya, penguatan literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa
Indonesia atau wali kelas, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen sekolah dan keluarga.
Dengan adanya kolaborasi yang erat, terbuka, dan berkesinambungan antara kedua pihak, maka visi pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dapat benar-benar terwujud melalui langkah nyata di lingkungan Sekolah Dasar.
(Penulis adalah guru SDN Inpres Burmeso, Kabupaten Mamberamo Raya, Distrik Mamberamo Tengah, saat ini kuliah pada S2 Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura)






