Kepala SMPN 2 Jayapura, Dorthea Carolien Enok, S.Pd dan kolega. (TIFAPOS.id/La Ramah)
TIFAPOS.id – Kepala SMP Negeri 2 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Dorthea Carolien Enok, S.Pd, mendorong semangat peserta didiknya.
Terutama yang beragama Islam dalam beribadah selama bulan puasa Ramadan 1446 Hijriah/2025 Masehi.
Salah satunya dengan menekankan makna Ramadan sebagai bulan peningkatan spiritualitas, solidaritas, dan pengendalian diri.
Ia juga menekankan pentingnya menjalankan ibadah puasa dengan niat yang tulus dan semangat yang tinggi.
Puasa Ramadan adalah ibadah wajib bagi umat Muslim di seluruh yang dilakukan selama bulan Ramadan dalam kalender Hijriah, dan salah satu dari Lima Rukun Islam dan memiliki makna spiritual yang mendalam.
Puasa Ramadan adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, puasa Ramadan juga melibatkan pengendalian diri dari perbuatan buruk, perkataan kotor, dan pikiran negatif.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, membersihkan jiwa, melatih kesabaran, dan merasakan bagaimana penderitaan orang-orang yang kurang mampu.
“Manfaatkan momen Ramadan untuk menanamkan nilai-nilai agama dan karakter yang positif pada siswa terutama mendekatkan kepada Tuhan,” ujar Enok di SMP Negeri 2 Jayapura, Selasa (25/2/2025).
Didampingi Guru Agama Islam, Muhammad Ashar dan Supriadi, Enok berpesan agar memberikan pemahaman akhlak mulia seperti yang diajarkan Nabi Muhammad.
Kesempatan tersebut, Enok menjelaskan selama bulan Ramadan, pembelajaran siswa SMP dapat disesuaikan agar tetap efektif dan bermakna.
Selama bulan Ramadan, penting untuk menerapkan strategi pembelajaran yang adaptif dan mempertimbangkan kondisi siswa yang sedang berpuasa.
Diantaranya, sekolah memendekkan durasi jam pelajaran. Hal ini membantu siswa menjaga energi dan fokus mereka selama berpuasa.
Misalnya, jam pelajaran yang biasanya 40 menit dipersingkat menjadi 30 menit. Begitu juga dengan jam pulang, biasanya jam 3 sore, selama Ramadan pulang jam 2 siang.
Selain itu, siswa memiliki waktu istirahat yang cukup untuk beribadah, beristirahat, atau sekadar menyegarkan diri.
“Selama Ramadan, fokus pembelajaran bisa lebih diarahkan pada pemahaman konsep-konsep utama daripada detail-detail yang rumit,” ujar Enok.

Ia juga mengatakan, sekolah menyelenggarakan kegiatan keagamaan seperti pesantren kilat, ceramah agama, atau tadarus Al-Quran untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang ajaran Islam.
Selain itu, menjalin komunikasi yang baik dengan siswa dan orang tua untuk memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi siswa selama Ramadan.
“Selain mendapatkan ilmu pengetahuan, siswa juga dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka,” ujar Enok.
Pemerintah melalui Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2025 dan Nomor 400.1/320/SJ telah mengatur jadwal pembelajaran anak sekolah selama Ramadan.
Dalam Surat Edaran tentang pembelajaran di bulan Ramadan Ramadan 1446 Hijrahnya/2025 Masehi tersebut juga terdapat jadwal libur lebaran anak sekolah selama lima hari dari tanggal 27 Februari s.d 5 Maret 2025.
Adapun belajar di sekolah selama bulan Ramadan berlangsung pada tanggal 6 s.d 25 Maret 2025.
Tanggal 26 s.d 28 Maret 2025 libur dan cuti bersama Idulfitri, dan tanggal 9 April 2025 kembali melaksanakan pembelajaran di sekolah.






