Beranda / Ragam Berita / Kasi Pendidikan Islam Kemenag Kota Jayapura takjub dengan pidato bahasa Jepang santriwati MTs Integral Hidayatullah Holtekamp

Kasi Pendidikan Islam Kemenag Kota Jayapura takjub dengan pidato bahasa Jepang santriwati MTs Integral Hidayatullah Holtekamp

Seorang santriwati MTs Integral Hidayatullah Holtekamp Jayapura, Talita Anisa Salsabila saat pidato bahasa Jepang dalam acara syukuran dan pelepasan Kelas IX Tahun 2025. (TIFAPOS/La Ramah)

TIFAPOS.id  Kasi Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jayapura, Siti Maimunah, S.E, merasa takjub dengan pidato berbahasa Jepang yang disampaikan oleh seorang santriwati MTs Integral Hidayatullah Holtekamp Jayapura, Talita Anisa Salsabila.

Hal ini menunjukkan apresiasi terhadap kemampuan bahasa asing yang dikuasai oleh para santri dalam lingkungan pendidikan Islam, yang kini juga mengembangkan pembelajaran bahasa Jepang sebagai bagian dari program peningkatan kemampuan komunikasi santri.

Pidato tersebut mencerminkan keberhasilan integrasi bahasa asing dalam pendidikan pesantren yang semakin berkembang dan mendapat perhatian dari Kemenag.

Pidato berbahasa Jepang yang disampaikan oleh Salsabila dalam acara syukuran dan pelepasan Kelas IX, Sabtu (24/5/2025) membuat takjub karena kemampuan bahasa asing yang tidak biasa.

“Bahasa Jepang bukanlah bahasa asing yang umum diajarkan di pesantren atau lembaga pendidikan Islam pada umumnya,” ujar Siti.

Dia juga mengatakan, kefasihan santriwati dalam berpidato menggunakan bahasa Jepang menunjukkan tingkat penguasaan bahasa yang tinggi dan dedikasi luar biasa dalam belajar bahasa asing yang kompleks.

Selain itu, pidato tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam di pesantren tidak hanya fokus pada pengajaran agama dan bahasa Arab, tetapi juga mampu mengintegrasikan pembelajaran bahasa asing lain seperti Jepang. Ini menandakan kemajuan dan inovasi dalam kurikulum pendidikan Islam.

Berpidato dalam bahasa asing di hadapan pejabat Kemenag dan audiens resmi membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi. Ini menunjukkan kualitas pembinaan karakter dan soft skills yang baik di lingkungan pesantren.

Pidato tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan Islam di Indonesia mampu bersaing dan relevan di era global, dengan santri yang tidak hanya paham agama tetapi juga mampu berkomunikasi secara internasional.

Selain itu, keunikan dan kualitas pidato dalam bahasa Jepang ini menginspirasi banyak pihak, termasuk Kasi Pendidikan Islam Kemenag, untuk semakin mendukung pengembangan kemampuan bahasa asing dalam pendidikan Islam.

“Yang membuat pidato ini takjub adalah kombinasi antara kemampuan bahasa asing yang luar biasa, keberanian tampil, dan makna strategisnya dalam menunjukkan kemajuan pendidikan Islam di era global,” ujar Siti.

Dia juga mengatakan, penggunaan bahasa asing dalam pidato santriwati memiliki makna penting terhadap nilai keislaman, seperti menguatkan pemahaman dan dakwah Islam secara global.

Artinya, penguasaan bahasa asing seperti Jepang, Arab, atau Inggris memungkinkan santriwati menyampaikan pesan dakwah kepada audiens yang lebih luas dan beragam, sekaligus menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang universal dan terbuka terhadap berbagai budaya.

Pendidikan pesantren modern mengajarkan bahasa asing sebagai bagian dari pengembangan diri santri agar mampu memahami kitab-kitab klasik, Al-Quran, dan hadis dalam bahasa aslinya, serta mampu berdakwah secara efektif di berbagai bahasa.

Penggunaan bahasa asing secara rutin dan terjadwal di pesantren melatih santri untuk disiplin, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam komunikasi, yang merupakan bagian dari pembentukan karakter Islami yang matang.

Dengan berpidato dalam bahasa asing, santriwati menunjukkan sikap terbuka terhadap budaya lain tanpa meninggalkan identitas Islam, sehingga nilai keislaman menjadi lebih inklusif dan relevan di era globalisasi.

“Penggunaan bahasa asing dalam pidato santriwati memperkuat nilai keislaman melalui pengembangan kemampuan dakwah yang global, integrasi ilmu agama dengan bahasa, pembentukan karakter Islami, dan sikap terbuka terhadap keberagaman budaya,” ujar Siti.

Dia juga mengatakan, kemampuan berpidato secara langsung melatih keterampilan berbicara di depan umum, mengatur intonasi, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh yang baik. Ini membantu Anda menjadi komunikator yang lebih efektif dan percaya diri dalam berbagai situasi.

Menguasai bahasa Jepang menunjukkan bahwa tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan global. Ini memberikan kebanggaan tersendiri dan memperkuat identitas sebagai santri yang modern dan berdaya saing.

Keberhasilan berpidato dalam bahasa Jepang dapat menjadi motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan lain, baik dalam bahasa asing maupun bidang ilmu lainnya, sehingga meningkatkan rasa percaya diri secara menyeluruh.

Siti berharap dalam program ini, agar madrasah aktif mengajukan bantuan native speaker untuk memperkuat pembelajaran bahasa Jepang, baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, sehingga santri dapat lebih mudah menguasai bahasa Jepang dan memperluas wawasan budaya mereka.

“Program ini juga diharapkan dapat menciptakan generasi muda yang kompeten dan berwawasan luas dalam bahasa dan budaya Jepang,” ujar Siti.

Kasi Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jayapura, Siti Maimunah, S.E menyampaikan sambutan dalam acara syukuran dan pelepasan santri dan santriwati MTs Integral Hidayatullah Holtekamp Jayapura. (TIFAPOS/La Ramah)

Kesempatan tersebut, dikatakan Siti, pesan utama yang disampaikan santriwati dalam pidatonya, yaitu mengajak untuk menjaga kerukunan antarumat beragama dan antarbangsa, menekankan pentingnya hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati perbedaan budaya serta keyakinan.

Pidato menyoroti pentingnya semangat belajar, khususnya dalam menguasai bahasa asing dan ilmu pengetahuan, sebagai bekal untuk menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Santriwati menyampaikan pesan agar tetap memegang teguh nilai-nilai akhlak mulia sesuai ajaran Islam dalam setiap aspek kehidupan, sebagai fondasi utama dalam membangun karakter yang kuat.

Dengan menggunakan bahasa Jepang, santriwati menunjukkan penghargaan terhadap budaya lain sekaligus mengajak untuk terus membuka diri terhadap keberagaman budaya sebagai bagian dari pembelajaran global.

Pidato juga mengandung ajakan agar setiap individu, khususnya generasi muda, aktif berperan dalam memajukan bangsa dan dunia dengan cara yang konstruktif dan penuh tanggung jawab.

“Pesan utama pidato santriwati adalah menggabungkan nilai keislaman dengan semangat globalisasi melalui pendidikan, toleransi, dan pengembangan diri demi masa depan yang lebih baik dan harmonis,” ujar Siti.

Seorang santriwati MTs Integral Hidayatullah Holtekamp Jayapura, Talita Anisa Salsabila, dalam pidatonya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mengajak santri dan santriwati untuk menatap masa depan dengan optimis.

“Saya yakin kita semua bisa melaluinya dengan gemilang. Ingat, perpisahan hari ini merupakan awal untuk masa depan,” ujar Salsabila.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *