Beranda / Ragam Berita / Kampung Omon tanpa sekolah formal di tengah hutan tropis Papua

Kampung Omon tanpa sekolah formal di tengah hutan tropis Papua

Kepala Kampung Omon, Frans Tabisu. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Anak-anak tidak mengikuti sekolah formal, mereka belajar melalui pengalaman langsung.

• Membentuk pendidikan holistik berbasis budaya dan lingkungan.

• Pemerintah diharapkan bangun sekolah inklusif tanpa hilangkan tradisi.

 

Di TENGAH hutan tropis pedalaman Papua, Kampung Omon di Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, menjadi contoh unik masyarakat yang hidup tanpa sekolah formal.

Dengan populasi 300 jiwa dari suku asli Papua, yakni suku Elseng, kampung ini menawarkan pandangan alternatif tentang pendidikan yang lebih menekankan pembelajaran langsung dari alam dan tradisi leluhur.

Namun, absensi pendidikan formal ini membawa dampak ganda, yaitu memperkuat integrasi sosial melalui interaksi sehari-hari, sekaligus menimbulkan tantangan dalam akses pengetahuan modern dan literasi.

Kampung Omon terletak di wilayah terpencil, dikelilingi oleh hutan lebat dan sungai yang menjadi sumber kehidupan utama.

Penduduknya, sebagian besar pemburu, mengandalkan pengetahuan turun-temurun untuk bertahan hidup. Anak-anak di sini tidak pernah menginjak bangku sekolah formal.

Sebaliknya, mereka belajar melalui pengalaman langsung, seperti berburu dan menghormati alam.

“Kami ajari anak-anak cara berburu, menanam sagu, dan menghormati alam,” ujar Kepala Kampung Omon, Frans Tabisu, saat ditemui di kampung tersebut, Kamis, 18 Desember 2025.

Dampak positif dari sistem ini terlihat jelas dalam kehidupan sosial kampung. Tanpa sekolah formal, masyarakat Omon menjalin ikatan yang kuat melalui kegiatan kolektif seperti berburu bersama atau upacara adat.

Integrasi sosial ini mencegah isolasi dan memperkuat solidaritas kelompok. Selain itu, pengetahuan tradisional tentang obat-obatan herbal, navigasi hutan, dan konservasi lingkungan tetap terjaga.

Hal ini merupakan bentuk pendidikan holistik yang mengintegrasikan budaya dan lingkungan, berbeda dari pendidikan formal yang sering kali terpusat pada teori.

Namun, absensi sekolah formal juga membawa dampak negatif yang signifikan. Banyak anak di Kampung Omon tidak bisa membaca atau menulis, sehingga kesulitan mengakses informasi modern atau peluang kerja di luar kampung.

Tanpa pendidikan formal, generasi muda kesulitan beradaptasi dengan perubahan sosial, seperti migrasi ke kota atau tantangan kesehatan seperti malaria dan malnutrisi.

Tantangan geografis, akses jalan yang buruk, dan cuaca ekstrem membuat literasi rendah ini semakin memperburuk kerentanan mereka terhadap eksploitasi.

“Kita perlu menghormati budaya sambil memperkenalkan literasi dasar. Untuk itu, kami sangat membutuhkan sekolah,” ujar Pendeta Marikinus Koba.

Pendamping Distrik Gresi Selatan, Hermon Asmuruf menambahkan pendidikan bukan hanya tentang sekolah, tetapi juga tentang masyarakat membentuk identitas dan ketahanan.

Di era globalisasi, kampung ini menjadi simbol resistensi budaya, namun juga panggilan untuk inovasi pendidikan yang lebih inklusif.

Dengan populasi yang stabil dan ketergantungan pada sumber daya alam, masa depan Kampung Omon bergantung pada keseimbangan antara tradisi dan modernitas.

“Mereka mulai memahami betapa pentingnya pendidikan, adanya sekolah tentu saja sangat membantu anak-anak di Kampung Omon untuk melihat dunia secara luas,” ujar Asmuruf.

Ia berharap pemerintah dapat segera membangun akses pendidikan atau sekolah tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang telah menjadi fondasi kehidupan mereka.

(ldr)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *