UPTD Puskesmas Saduyap di Kampung Bangai Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Tidak ada puskesmas atau klinik kesehatan lokal.
• Marga meninggal karena keterlambatan, seperti ibu melahirkan tanpa bantuan medis.
• Fasilitas kesehatan untuk jamin hak kesehatan warga, sesuai rencana pembangunan jangka panjang.
KAMPUNG Omon, sebuah pemukiman kecil di Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Papua, tengah dirundung keluhan serius dari warganya terkait minimnya fasilitas kesehatan.
Dengan populasi 300 jiwa, kampung yang terletak di kaki pegunungan dan jauh dari pusat kota, menghadapi tantangan besar dalam mengakses layanan medis dasar.
Warga mengeluh tidak adanya puskesmas atau klinik kesehatan di daerah mereka, sehingga menyebabkan banyak kasus kesehatan yang tidak tertangani dengan baik, terutama bagi ibu hamil, anak-anak, dan lansia (lanjut usia).
Menurut Kepala Kampung Omon, Frans Tabisu, masalah ini telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Kami harus berjalan kaki selama berjam-jam untuk mencapai puskesmas terdekat yang berjarak sekitar 15 kilometer. Ini sangat berbahaya, terutama saat hujan atau malam hari,” ujar Tabisu.
Kepala kampung menambahkan, beberapa warga telah meninggal dunia karena keterlambatan penanganan medis, seperti kasus seorang ibu melahirkan di rumah tanpa bantuan tenaga kesehatan yang memadai.
“Kami bukan hanya meminta, tapi juga siap berkontribusi, seperti menyediakan lahan untuk bangunan kesehatan,” ujar Tabisu.
Data dari pendamping kesehatan menunjukkan bahwa Kampung Omon termasuk dalam kategori daerah dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah, yakni angka harapan hidup dan akses kesehatan masih jauh di bawah rata-rata nasional.
Pada tahun 2021, tercatat penyakit malaria dan infeksi salurkan pernapasan (ISPA) dan penyakit kulit paling dominan yang tidak segera ditangani, karena ketiadaan tenaga medis di lokasi.
“Fasilitas kesehatan yang dekat dengan masyarakat dapat mengurangi angka kematian terutama ibu dan bayi,” ujar Koordinator Wilayah Tabi Komunitas Medis Papua Tanpa Batas, Rafael J. Morin.
Ia mendorong pemerintah untuk memprioritaskan daerah terpencil dalam rencana pembangunan kesehatan jangka panjang.
Diharapkannya, masalah ini dapat teratasi, memastikan setiap warga mendapatkan hak kesehatan yang layak.
Seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun dari Kampung Omon, Sofia Tet menceritakan pengalaman pahitnya.
“Anak saya yang berusia 5 tahun pernah sakit parah karena demam tinggi, tapi kami tidak bisa membawanya ke dokter tepat waktu. Kami hanya bisa mengandalkan obat-obatan tradisional dari tetua kampung,” ujar Tet.
Keluhan serupa datang dari kelompok lansia, yang sering mengalami penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tanpa pemantauan rutin.
Warga lainnya, Elia Tabisu mendesak agar pembangunan fasilitas kesehatan dilakukan secepatnya, mengingat kondisi geografis yang sulit.
“Kami butuh dokter tetap, bukan hanya kunjungan sesekali. Fasilitas kesehatan adalah hak dasar kami,” ujar Tabisu.
Pendamping Distrik Gresi Selatan, Hermon Asmuruh menekankan peningkatan infrastruktur kesehatan dasar, aksesibilitas dan mobilitas layanan kesehatan, program kesehatan preventif dan promotif, serta kolaborasi dan dukungan pemerintah.
“Saya yakin fasilitas kesehatan di Distrik Gresi Selatan dapat menjadi lebih tangguh dan responsif, sehingga masyarakat dapat hidup lebih sehat dan produktif. Mari bersama-sama wujudkan visi kesehatan yang merata dan berkualitas,” ujar Asmuruf.
(ldr)







