TIFAPOS.id Kafilah Kota Jayapura mengikuti Training Center (TC) sebagai persiapan untuk mengikuti Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat Papua ke-28 tahun 2025.
TC ini bertujuan meningkatkan kemampuan para peserta kafilah sebelum bertanding. Dari kafilah Kota Jayapura sebanyak 12 peserta terpilih untuk mengikuti TC.
TC berlangsung di BPMP Papua, Selasa (10/6/2025) meliputi latihan intensif untuk memaksimalkan performa peserta dalam berbagai cabang STQ, sehingga kafilah kota dapat tampil optimal dan berprestasi.
Kafilah Kota Jayapura, dalam TC STQ fokus melatih keterampilan Tilawah (anak dan dewasa) dan Hifdzil (1 juz, 5 juz, 10 juz, 20 juz).
Tilawah khususnya melatih kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tajwid yang baik, serta penguasaan teknik suara dan ekspresi dalam tilawah.
Sementara, Hifdzil melatih hafalan ayat-ayat suci Al-Quran sehingga bisa dibaca di luar kepala dengan baik tanpa melihat mushaf. Orang yang berhasil menghafal seluruh Al-Quran disebut hafidz (laki-laki) atau hafidzah (perempuan).

Manajer Kafilah Kota Jayapura, Abdul Majid, S.Pd., M.Pd mengatakan, tujuan TC adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, sekaligus sebagai evaluasi kesiapan peserta dalam mengikuti lomba STQ.
Selain aspek teknis Tilawah dan Hifdzil, TC juga fokus melatih kesiapan mental, kepercayaan diri, disiplin, kekompakan, dan persatuan kafilah agar terbentuk mental tangguh yang mampu mengharumkan nama daerah dalam ajang STQ tingkat Papua maupun nasional.
“Pelaksanaan TC menjadi momen penting untuk pembinaan qori dan qoriah yang akan berlaga di STQ tingkat provinsi hingga nasional,” ujar Majid.
Dia juga mengatakan, persiapan kafilah Kota Jayapura untuk mengikuti STQ tingkat Papua di Kota Jayapura pada 13 s.d 15 Juni 2025 di LPTQ Papua, yaitu seleksi ketat dan pemilihan peserta.
Tujuannya, agar kafilah terpilih benar-benar mewakili potensi terbaik yang tersebar di lima distrik di wilayah Kota Jayapura.
Pembinaan intensif yang melibatkan pelatih profesional, dengan latihan rutin yang fokus pada cabang lomba masing-masing, yang mencakup aspek teknis baca, hafalan, tajwid, irama, serta karakter dan spiritual peserta.
Selain itu, karantina dan try out yang dilakukan secara terstruktur untuk mempersiapkan mental dan fisik peserta agar siap bertanding di tingkat provinsi.
Kafilah Kota Jayapura yang berhasil meraih juara umum di tingkat Papua dengan membawa pulang banyak tropi, menjadi modal penting dan motivasi untuk tampil maksimal di tingkat.
“Persiapan kafilah Kota Jayapura untuk STQ tingkat Papua dilakukan secara serius dan terorganisir, dengan pembinaan yang menyeluruh dan dukungan penuh dari berbagai pihak terkait,” ujar Majid.

Dia juga mengatakan, keberhasilan kafilah Kota Jayapura dalam STQ dan MTQ berkontribusi signifikan pada pengembangan generasi Al-Qur’an.
Prestasi ini menjadi bukti nyata hasil pembinaan intensif dan ketelatenan para pembimbing serta dukungan kyai pondok pesantren, yang bersama-sama membentuk karakter dan spiritual peserta.
Selain itu, keberhasilan kafilah ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Jayapura dalam membangun mental spiritual masyarakat melalui pendidikan Al-Qur’an sejak dini, seperti melalui Taman Kanak-kanak Al-Quran (TKA) dan Tempat Pendidikan Al-Quran (TPA).
Program ini bertujuan menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an yang membentuk generasi berakhlak mulia, toleran, dan mampu menciptakan kehidupan harmonis di tengah keberagaman.
“Prestasi kafilah Kota Jayapura tidak hanya meningkatkan motivasi dan kualitas peserta lomba, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an yang mendukung pembentukan generasi Al-Qur’an yang berintegritas dan berdaya saing,” ujar Majid.
Ketua Umum LPTQ Kota Jayapura, Dr. Drs. H. Fachruddin Pasolo, M.Si menjelaskan, kafilah STQ adalah kelompok peserta yang mewakili daerah dalam ajang Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ).
STQ adalah sebuah kompetisi yang menguji kemampuan membaca, menghafal, dan menafsirkan Al-Qur’an.
Kafilah ini, lanjut Fachruddin terdiri dari para juara cabang lomba di tingkat distrik dan kota yang kemudian maju ke tingkat provinsi untuk berkompetisi lebih lanjut.
“Kafilah-kafilah ini menjadi representasi daerah mereka dalam ajang yang bertujuan menyiapkan generasi Qur’ani dan meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an,” ujar Fachruddin.
Fachruddin menambahkan, STQ memiliki berbagai cabang lomba seperti Tilawah (seni baca Al-Qur’an), Tahfidz (menghafal Al-Qur’an dengan berbagai juz), tafsir bahasa Arab, dan hafalan Hadist dengan sanad maupun tanpa sanad.
Kafilah STQ didampingi oleh pembina, pelatih, dan ofisial yang mendukung persiapan dan keberhasilan mereka dalam kompetisi.

Salah satu kafilah yang mengikuti cabang lomba Tilawah Al-Qur’an, Nur Hasanah mengatakan, sudah lima tahun mengikuti lomba sejak 2021 s.d 2025.
Dalam perlombaannya, Nur Hasanah pernah dua kali meraih juara dua pada STQ tingkat Papua.
“Motivasi saya mengikuti STQ adalah untuk menyiarkan Al-Qur’an dengan bacaan yang naik dan benar sehingga indah didengar, tapi juga dapat dipahami serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nur Hasanah.
Dia juga mengatakan, pengalaman dan pelajaran berharga yang didapat dari mengikuti STQ adalah meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi untuk terus berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.
Selain itu, memperoleh pembelajaran tentang pentingnya kerja keras, disiplin, dan persiapan matang dalam menghadapi kompetisi yang ketat, termasuk seleksi fisik, mental, dan pengetahuan.

Dukungan moral dan fasilitas dari sekolah, keluarga, serta komunitas yang menjadi sumber semangat dan motivasi untuk terus maju.
Pengalaman berharga dalam mengasah keterampilan dan pengetahuan, sekaligus memperluas wawasan dan jaringan antar peserta dari berbagai daerah.
Dia juga mengatakan, STQ mengajarkan pentingnya tidak cepat puas dengan keberhasilan, melainkan terus meningkatkan kemampuan dan belajar tanpa henti agar siap menghadapi tantangan berikutnya.
“Keberhasilan di tingkat provinsi memberikan modal pengalaman yang kuat, pelajaran hidup, dan semangat untuk berkompetisi di tingkat nasional dengan lebih percaya diri dan kesiapan yang matang,” ujar Nur Hasanah.






