Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura saat menjajakan dagangan mereka. (TIFAPOS/Istimewa)
Oleh: Dina Ijie, Aminius Hembusapong, Patrianus Marino, Piliton Telengen, Evalia Wenda, Salomina Lensru
SERINGKALI tugas perkuliahan dianggap hanya berakhir di meja dosen. Namun, dalam mata kuliah Komunikasi dan Presentase Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, inilah titik inovasi berperan sebagai jembatan, bukan penghalang.
Berkat bimbingan Kurniawan Patma dan Maylen Kathrin Petra Kambuaya sebagai dosen pengampu, lahirlah inovasi baru tersebut yaitu es sticky milo dan gemblong pandan.
Bukan sekadar teori di atas kertas, kami memanifestasikan strategi pemasaran dan teknik persuasi melalui dua produk unik ini.
Pangan lokal bukan sekadar urusan perut, ia adalah identitas. Namun, identitas yang tidak beradaptasi akan sulit bertahan di era kompetisi global.
Dunia bisnis kuliner saat ini tidak hanya menjual rasa, tetapi juga “cerita” dan “visual”. Es sticky milo hadir sebagai evolusi dari minuman cokelat populer yang diberikan sentuhan tekstur sticky (lengket) yang memanjakan lidah.
Sementara, produk gelombang pandan menawarkan nuansa tradisional yang dikemas secara modern, menonjolkan aroma pandan yang autentik dengan presentasi yang estetik.
Pemilihan kedua produk ini bukanlah tanpa alasan. Dalam kesepakatan bersama kelompok kami sedang melakukan branding produk yang kontras, namun saling melengkapi milo yang mewakili selera global, dan pandan yang mewakili kearifan lokal.
Dalam proses jualan ini, kami memetakan selera mahasiswa dan masyarakat sekitar yang menyukai minuman kekinian dengan harga terjangkau namun memiliki nilai tambah (keunikan tekstur).
Puncak dari tugas ini bukan hanya saat transaksi terjadi, melainkan bagaimana kami mampu berbicara di depan investor,
Publik (public speaking) diuji saat kami harus meyakinkan “investor” (dalam hal ini dosen dan konsumen) bahwa es sticky milo dan gelombang pandan memiliki potensi pasar yang berkelanjutan.
Kami belajar bahwa presentasi bisnis yang efektif tidak hanya soal slide yang bagus, tapi tentang integritas produk dan kepercayaan diri sang komunikator.
Keberhasilan menjual puluhan gelas dalam waktu singkat adalah bukti bahwa pesan bisnis yang kami sampaikan dapat diterima dengan baik oleh pasar.
Melalui tugas ini, kami menyadari bahwa komunikasi bisnis adalah jembatan antara ide kreatif dan keberhasilan ekonomi.
Produk usaha kami mungkin terlihat seperti minuman biasa, namun di baliknya terdapat proses belajar tentang negosiasi, strategi promosi, dan mentalitas kewirausahaan yang tangguh.
Kreativitas mahasiswa tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ia harus berani turun ke jalan, menemui audiensnya, dan membuktikan bahwa teori yang dipelajari mampu menciptakan gelombang perubahan sekecil apa pun itu.
(Penulis adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Cenderawasih Jayapura)
(ldr)










