TIFAPOS.id Pelaksanaan IHT (in house training) di SMP Negeri 2 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, secara umum sukses meningkatkan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran dengan pendekatan yang sistematis dan partisipatif.
Kepala SMP Negeri 2 Jayapura, Dorthea Carolien Enok, S.Pd mengatakan, pelaksanaan IHT yang digelar selama empat hari dari 28 s.d 31 Juli 2025 menunjukkan bahwa program ini efektif dalam meningkatkan kompetensi guru.
Terutama dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi informasi.
Contohnya, menerapkan prinsip pembelajaran aktif dan inovatif (PAIKEM), serta mengembangkan soal berorientasi Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Guru yang sebelumnya memiliki kompetensi rendah atau cukup dalam menyusun RPP menunjukkan peningkatan ke kategori baik setelah IHT, dengan persentase mencapai 77-84% dalam kategori baik.
Guru mampu mengimplementasikan pembelajaran yang lebih inovatif dan melibatkan siswa aktif.
Kompetensi guru dalam menyusun soal berorientasi HOTS meningkat dari 44,44% sebelum IHT menjadi 100% setelah IHT pada siklus kedua.
IHT membantu pembaruan pengetahuan guru terhadap kurikulum terbaru dan teknik pembelajaran modern sehingga guru lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran.
Meski IHT efektif, guru masih memerlukan bimbingan, monitoring, dan evaluasi lanjutan agar hasil pelatihan dapat diterapkan maksimal dalam proses pembelajaran sehari-hari.
“Jadi, IHT terbukti sebagai program yang efektif untuk meningkatkan kompetensi guru khususnya dalam perencanaan pembelajaran, penggunaan metode inovatif, serta penilaian yang mendorong berpikir tingkat tinggi siswa,” ujar Enok pada penutupan IHT di Cafe Yasbeer di Pantai Holtekamp, Kota Jayapura, Kamis (31/7/2025).

Dia juga mengatakan, IHT dengan pendekatan andragogi meningkatkan kemampuan guru membuat media pembelajaran berbasis TIK, yakni peserta mampu mencapai standar yang ditetapkan.
Pendekatan andragogi adalah konsep pembelajaran yang difokuskan pada orang dewasa dengan menekankan kemandirian, pengalaman hidup, dan motivasi internal sebagai sumber utama pembelajaran.
Pelaksanaan IHT dimulai dengan asesmen kebutuhan yang melibatkan kepala sekolah dan guru untuk merancang program yang relevan.
Diikuti dengan penetapan jadwal, penyusunan materi, pelaksanaan pelatihan, observasi, dan refleksi bersama peserta.
Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan dan keterampilan guru, tetapi juga memicu kesadaran kolektif untuk terus bertransformasi demi peningkatan kualitas pembelajaran.
Selain itu, pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan guru dan sekolah untuk mendukung profesionalisme.
Melibatkan semua guru dan pihak sekolah untuk mendapatkan hasil optimal, dengan memperhatikan waktu pelaksanaan agar tidak mengganggu aktivitas sekolah.
“Hasil pelatihan diterapkan langsung dalam proses pembelajaran sehari-hari. Ini yang menjadi harapan kami, agar melahirkan peserta didik maupun lulusan berdaya saing,” ujar Enok.
Enok menambahkan, IHT memiliki aspek penting yang secara langsung meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi guru, seperti kompetensi dan keterampilan mengajar guru.
Melalui pelatihan metode pembelajaran terbaru, strategi pengajaran efektif, dan pemanfaatan teknologi pendidikan sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dan menarik bagi siswa.
Pengembangan inovasi dan kolaborasi antar guru yang memicu pertukaran pengalaman dan praktik terbaik, serta memperkuat kerjasama tim internal di lingkungan sekolah.
Pembaharuan pengetahuan guru terhadap kurikulum terbaru, seperti Kurikulum Merdeka, agar dapat menyesuaikan metode pengajaran yang relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa.
Meningkatkan motivasi dan komitmen guru dengan memberikan pelatihan yang memberi pengakuan atas kontribusi mereka, sehingga guru lebih bersemangat dalam menjalankan tugasnya.
Mendukung peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh yang berdampak positif pada pengalaman dan hasil belajar siswa, serta persiapan sekolah dalam menghadapi akreditasi dan standar mutu pendidikan.
Memudahkan peningkatan karir guru karena pelatihan ini dapat menjadi bagian dari pengumpulan angka kredit untuk kenaikan pangkat dan pengembangan profesional guru.
“Pelaksanaan yang tepat dan relevan, IHT menjadi investasi penting dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sekolah, terutama guru, untuk menciptakan proses pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan di SMP 2 Jayapura,” ujar Enok.

Kepala Bidang SMP Disdikbud Kota Jayapura, Purnama Sinaga, S.Pd., M.M.Pd menegaskan pengembangan kompetensi guru melalui Kombel (Komunitas Belajar).
Kombel dilakukan dengan cara menciptakan ekosistem belajar yang kolaboratif, berkelanjutan, dan kontekstual di mana guru aktif berdiskusi, berbagi praktik baik, menyusun rencana pembelajaran, bahan ajar, hingga asesmen.
Kombel membantu guru meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional melalui diskusi rutin, pelatihan bersama, kolaborasi dalam menyelesaikan masalah pembelajaran, serta refleksi bersama.
Program ini didukung oleh kepemimpinan sekolah dan pendanaan seperti dana BOS, dan meskipun ada keterbatasan fasilitas, dampaknya positif terhadap kualitas pembelajaran dan kepercayaan diri guru.
Selain itu, Kombel memfasilitasi ruang diskusi dan kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan, mendorong inovasi pengajaran yang sesuai kebutuhan siswa, dan memperkuat kompetensi profesional guru agar lebih adaptif dan mampu menghadapi tantangan pembelajaran.
“Hasil nyata dari Kombel termasuk perbaikan RPP, modul ajar, serta peningkatan semangat dan kemampuan guru dalam mengajar,” ujar Purnama.
Selain itu, guru jadi lebih terbuka terhadap masukan, inovatif dalam metode mengajar, dan aktif dalam kolaborasi sehingga peningkatan kompetensi guru dan hasil belajar siswa tercapai.
Kombel dianggap penting sebagai strategi berkelanjutan dan efektif untuk pengembangan kompetensi guru secara profesional dan pedagogis melalui kolaborasi, refleksi, dan dukungan manajerial di lingkungan sekolah.

Dia juga menegaskan, pemanfaatan coding dan artificial intelligence (AI) untuk guru SMP saat ini menjadi fokus penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masa depan.
Pentingnya coding untuk guru SMP agar meningkatkan kompetensi kognitif siswa, pendekatan aktif dan praktis, guru menjadi fasilitator yang tidak hanya mengajarkan teori, pembelajaran lebih personal.
Selain itu, membuat kelas makin adaptif terhadap variasi kemampuan siswa, merencanakan pembelajaran berbasis data, serta memanfaatkan aplikasi AI sederhana, seperti chatbot edukasi atau sistem rekomendasi materi.
Guru didorong mengikuti pelatihan AI agar bisa mengidentifikasi dan mengatasi kesulitan belajar siswa, merencanakan pembelajaran berbasis data, serta memanfaatkan aplikasi AI sederhana, seperti chatbot edukasi atau sistem rekomendasi materi.
Guru juga diharapkan menanamkan nilai-nilai etika dalam penggunaan teknologi sehingga siswa mampu memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab.
Coding dan AI mulai banyak diintegrasikan melalui kurikulum berbasis proyek, misal pembuatan animasi sederhana (Scratch), chatbot edukasi, atau proyek AI lain yang kontekstual dengan kehidupan siswa SMP.
Selain itu, siswa menjadi lebih siap menghadapi pendidikan lanjut dan dunia kerja di era digital, serta memiliki daya saing tinggi berbekal literasi teknologi dasar yang kuat.
“Penekanan pada pemanfaatan coding dan AI bagi guru SMP membantu menciptakan proses belajar-mengajar yang lebih modern, efektif, kontekstual, dan adaptif, sejalan dengan tuntutan revolusi industri 4.0 dan perkembangan zaman,” ujar Purnama.
(lrh)






