Ilustrasi Hiu Paus. (TIFAPOS/Ist)
TIFAPOS.id – Ikan hiu paus spesies baru terlihat di Area Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC), Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Ikan ini dinamakan hiu paus karena jenisnya ikan hiu, namun bentuk kepalanya menyerupai ikan paus. Ikan hiu paus biasanya hidup di perairan dangkal, tetapi beberapa juga ada yang hidup di perairan laut dalam.
Corporate Secretary Pertamina
International Shipping Muh. Aryomekka Firdaus mengatakan jumlah hiu paus di TNTC Kabupaten Nabire tercatat 203 spesies hingga Mei 2024, yang sebelumnya berjumlah 195.
Temuan ini merupakan hasil monitoring PT Pertamina International Shipping (PIS) bersama Pertamina Foundation, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama PIS dan KLHK sejak November 2023.
Penemuan ikan hiu paus baru sekaligus menjadi hadiah spesial untuk keberlanjutan hayati di lautan yang bertepatan dengan momen World Ocean Day (Hari Laut Internasional) pada 8 Juni 2024.
“Kerjasama ini menjadi bukti komitmen PIS untuk mendukung program Sustainable Development Goals (SDG), terutama dalam poin 14 tentang “life below water,” ujar Aryomekka dalam rilisnya di Jayapura, Selasa (11/6/2024).
Kolaborasi terhadap pengelolaan Whale Shark Center bersama KLHK merupakan salah satu program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PIS.
Kegiatan ini berada di bawah program “BerSEAnergi Untuk Laut” untuk mendukung keberlanjutan ekosistem laut, peningkatan literasi, kesejahteraan masyarakat pesisir.
Adapun dari bentuk kerja sama pengelolaan Whale Shark Center di Kwatisore mencakup beberapa program, diantaranya Konservasi dan Tagging Hiu Paus, Pertamina Ocean Warrior (Endangered Species Monitoring), Pelatihan Diving dan Desa Energi Berdikari.
Selain dilaksanakan program monitoring, upaya konservasi di TNTC juga dilanjutkan dengan proses tagging hiu-hiu paus untuk merekam dan mengolah data perilaku hiu paus saat di perairan.
Salah satu pemanfaatan data adalah untuk mempelajari rute migrasi dari hiu paus di area perairan laut Papua.
Dari data tersebut disesuaikan dengan jalur area pelayaran kapal PIS di wilayah Papua. Sehingga ketika kapal PIS berlayar di rute yang tidak mengganggu jalur hiu paus tersebut, dengan harapan bisa diakses oleh kapal-kapal lainnya demi menjaga ekosistem kelautan.
Berdasarkan dari data International Union for Conservation of Nature (IUCN), saat ini ikan hiu paus merupakan salah satu hewan yang terancam punah sejak 2016.
Sejak saat itu, berbagai upaya konservasi ikan hiu paus terus digalakkan oleh berbagai pihak, termasuk oleh PIS sebagai perusahaan yang bergerak di industri maritim dan memiliki perhatian besar untuk keberlanjutan ekosistem kelautan Indonesia.
“Sebagai pelaku industri maritim terbesar di Indonesia, sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk menjalankan bisnis dengan prinsip berkelanjutan demi menjaga keasrian lingkungan yang akan kita wariskan ke generasi mendatang,” ujar Aryomekka.
Pengendali Ekosistem Habitat Seksi Pengelolaan TNTC Wilayah 1 Kwatisore, Sumaryono berharap kedepannya ikan hiu paus di area TNTC Nabire terus bertambah dan memudahkan dalam monitoring populasi dan pergerakannya.






