Peserta pelatihan Analisis Gender Dalam Konflik foto bersama. (TIFAPOS/Istimewa)
TIFAPOS.id – Perempuan dan anak-anak sering menjadi korban paling rentan konflik dalam komunitas baik antar komunitas, antar kelompok, antar etnis dalam negara atau pun antar negara.
Laporan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) mengungkapkan tahun 2022 terdapat 600 juta Perempuan hidup di wilayah konflik, naik 50 % dari 2017. (https://www.unwomen.org/).
Di pihak lain, kaum perempuan juga dapat menjadi promotor perdamaian. Di tingkat lokal, kaum perempuan sering terlibat aktif dalam moderasi, pencegahan, dan resolusi konflik.
Kaum perempuan dapat menjadi fasilitator perdamaian dalam kelompok mereka baik organisasi, komunitas suku, desa atau komunitas lain (masing-masing) mereka berasal atau menetap.
Untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan keterampilan sebagai analis konflik dan promoter perdamaiaan, kepada kaum Perempuan muda, Laboratorium Pertahanan dan Keamanan, Jurusan HI UPN “Veteran” Yogyakarta mengadakan pelatihan ‘Analisis Gender Dalam Konflik”.
Pelatihan ini melibatkan 30 perempuan muda, berusia 20 sd 23 tahun, yang berasal dari NTT, NTB, Papua, Aceh, Bengkulu dan Medan.
Pelatihan dilakukan di Yogyakarta dari 26 sd 27 Oktober 2024. Peserta adalah perempuan muda yang sedang studi di 10 Universitas di Yogyakarta.
Ketua Laboratorium HANKAM UPN “Veteran” Yogyakarta sekaligus koordinator program, Nikolaus Loy mengatakan pelatihan ditujukan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar kepada kaum perempuan muda tentang dampak konflik pada kaum perempuan, analisis konflik, dan peran mereka moderasi dan penyelesaian secara damai.
“Materi pelatihan meliputi teori konflik dan resolusi konflik, berbagai perspektif teoritis tentang dimensi gender dalam konflik, analisis konflik berdimensi gender, Perempuan dan perdamaian,” ujar Loy dalam rilisnya di Yogyakarta, Jawa Tengah, Senin (28/10/2024).
“Peserta juga bermain peran sebagai negosiator resolusi konflik dengan menggunakan kasus konflik hubungan industrial,” jelasnya.
Dikatakannya, pelatihan yang dikemas sebagai Peace Camp ini didampingi Dr. Iva Rachmawati, Dr. Sri Issundari, Melati Anggraini, MA, Dr. Bastian Yunariono, yang adalah dosen dan peneliti dari Jurusan HI UPN “Veteran” Yogyakarta.
Selain itu, Dr. Linda Dwi Eriyanti (Direktur Pusat Studi Gender dan Feminisme Universitas Jember) dan Shinta Maharani, wartawan TEMPO spesialis liputan isu perlindungan hak-hak minoritas dan Perempuan dalam berbagi konflik.
Dr. Linda Eriyanti, yang diminta komentar pasca pelatihan mengatakan bahwa pelatihan ini penting untuk meyakinkan generasi muda untuk menjadi agen perdamaian dengan segala potensi yang dimilikinya.
“Perempuan harus berperan membangun budaya damai di masyarakat dengan femininitas dan etika kepeduliannya, mewujudkan keadilan hingga tercapai ‘positive peace’ yang dirasakan oleh semua orang,” ujarnya.
Wartawan TEMPO sekaligus fasilitator Shinta Maharani menekankan bahwa “Peace Camp: Gender in Conflict” memberikan ruang lebih kepada perempuan muda sebagai bagian dari politik afirmasi perempuan penting untuk mengatasi ketimpangan pengetahuan tentang gender dan konflik.
“Perempuan mahasiswa punya tantangan untuk berpikir dan bersikap kritis terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan dan kelompok minoritas alami dalam kehidupan bernegara,” ujarnya.
Ketidakadilan itu, dilanjutkannya, misalnya perempuan kerap menjadi korban konflik agraria, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), konflik, dan kekerasan seksual.
Selain itu, minoritas gender dan seksual juga mengalami berbagai diskriminasi dan kekerasan di tengah berbagai kebencian.
“Peace Camp bisa menjadi ruang diskusi bersama yang menawarkan berbagai pendekatan perdamaian demi kehidupan Indonesia dan dunia yang adil, setara, dan inklusif yang berpijak pada pemenuhan HAM,” ujarnya.
Ketua Jurusan HI UPN “Veteran” Yogyakarta, Dr. Ariyanta Nugraha berharap Peace Camp bagian dari upaya Jurusan HI membumikan Ilmu Hubungan Internasional, dengan terlibat dalam persoalan-perosoalan sosial melalui pendampingan kaum muda dari Indonesia Timur dan daerah lain.
Dalam sesi refleksi, para peserta menginginkan agar pelatihan untuk perempuan sebagai agen perdamaian dan resolusi konflik perlu dilanjutkan.
Mahya, perempuan muda dari Manggarai NTT, mengatakan bahwa Peace Camp membantunya memahami konflik dan membangun jaringan dengan sesama perempuan dari latar berbeda.
Peserta lainnya, Novi, dari Bengkulu mengatakan bahwa pelatihan membantunya memahami hubungan gender dan konflik dalam konteks budaya berbeda.
Epike Kiwak, asal suku Damai Timika, mahasiswi Universitas Duta Wacana, mengungkapkan bahwa Peace Camp memberikan keterampilan untuk menganalis konflik dengan baik dan membangun jaringan dengan teman-teman Perempuan dari daerah lain.
Hal yang sama dikatakan Aknes, perempuan muda Suku Dani, Papua yang sedang belajar di STIKES Panti Rapih.






