Infografis kejadian Gempabumi di wilayah Kota Jayapura. (TIFAPOS/Ist)
TIFAPOS.id Gempabumi tektonik dengan magnitudo 3,0 telah dirasakan di Kota Jayapura, Papua, Rabu (4/6/2025) pukul 01:22:31 Waktu Papua.
Berdasarkan rilis yang dikeluarkan BMKG Wilayah V Jayapura, Gempabumi memiliki parameter kekuatan M3,0, dengan episenter di koordinat 2.49° LS ; 140,69° BT atau berlokasi di darat 8 km Barat Laut Kota Jayapura pada kedalaman (laut) 10 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, Gempabumi yang terjadi merupakan jenis dangkal akibat aktivitas sesar aktif, yang memang rutin terjadi di wilayah rawan gempa.
Hal ini menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo 3,0 bisa terjadi beberapa kali dalam setahun di daerah-daerah rawan gempa.
“Berdasarkan informasi dari masyarakat, Gempabumi dirasakan oleh masyarakat di Kota Jayapura dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan seperti truk yang melintas),” ujar Kepala Balai Besar MKG Wilayah V Jayapura, Yustus Rumakiek, S.Si.
Dia juga mengatakan, warga yang merasakan getaran biasanya melaporkan sensasi seperti ada truk berlalu atau getaran ringan yang membuat benda bergoyang.
Namun, tidak semua orang di kota merasakan getaran ini, tergantung jarak dan kondisi bangunan dan tidak menimbulkan kerusakan
Dia juga mengatakan, hasil pengamatan BMKG, hingga pukul 01:30 Waktu Papua, hasil monitoring belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock).
Meski demikian, lanjut Rumakiek, masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan menghindar dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
“Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali kedalam rumah,” ujar Rumakiek.
Kesempatan tersebut, Rumakiek berpesan, saat merasakan getaran kecil dari gempa, langkah terbaik yang harus diambil adalah tetap tenang dan hindari panik agar bisa berpikir jernih.
Segera turunkan tubuh ke posisi rendah (drop), berlindung di bawah meja atau furnitur kokoh untuk melindungi kepala dan leher (cover), dan tahan posisi tersebut sampai gempa berhenti (hold on).
Jika tidak ada meja, berlindunglah di dekat dinding bagian dalam atau di samping furnitur yang kuat sambil melindungi kepala dengan tangan.
Hindari berdiri dekat jendela, pintu kaca, tiang listrik, atau benda yang bisa jatuh, jangan langsung berlari keluar kecuali gempa terasa kuat dan bangunan tidak aman.
Jika keluar, perhatikan pecahan kaca atau benda berbahaya, matikan kompor atau api jika memungkinkan setelah gempa reda untuk mencegah kebakaran.
Serta, tidak menggunakan lift saat gempa terjadi tapi menggunakan tangga darurat jika harus evakuasi.
“Langkah-langkah ini membantu melindungi diri dari cedera akibat benda jatuh atau runtuhan saat gempa berlangsung,” ujar Rumakiek.
Rumakiek berharap, masyarakat memastikan mendapatkan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi, yaitu Instagram/Twitter @infoBMKG.
Selain itu, website https://www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id, telegram channel https://t.me/InaTEWS_BMKG) atau melalui Mobile Apps (IOS dan Android), wrs-bmkg atau infobmkg.






