Beranda / Ragam Berita / Gaungkan bahasa Marin, Disdik Kabupaten Merauke dan Balai Bahasa Papua kerja sama penyusunan modul dan bahan ajar

Gaungkan bahasa Marin, Disdik Kabupaten Merauke dan Balai Bahasa Papua kerja sama penyusunan modul dan bahan ajar

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke, Romanus Kande Kahol, S.IP., M.Si dan Kasubag Umum Balai Bahasa Papua, Yohanis Sanjoko, S.Pd., M.A menabuh Tifa pada acara pembukaan Bimbingan Teknis penyusunan modul dan bahan ajar bahasa daerah yang berlangsung di Kota Jayapura, 27 s.d 29 Oktober 2025. (TIFAPOS/La Ramah)

 

Ringkasan Berita

• Bahasa Marin, salah satu bahasa lokal yang masih digunakan oleh komunitas masyarakat asli di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

• Bahasa Marin menghadapi tantangan penurunan penutur akibat pergeseran bahasa dan globalisasi.

• Meningkatkan kualitas pendidikan bahasa daerah, sekaligus memperkuat pelestarian bahasa dan budaya lokal.

 

BAHASA Marin merupakan salah satu bahasa lokal yang masih digunakan oleh komunitas masyarakat asli di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Meski memiliki nilai budaya yang tinggi, bahasa Marin menghadapi tantangan penurunan jumlah penutur akibat pergeseran bahasa dan globalisasi.

Melihat kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke bersama Balai Bahasa Papua menginisiasi kolaborasi untuk menyusun modul pembelajaran dan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan murid.

Kolaborasi tersebut dituangkan dalam satu kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) penyusunan modul dan bahan ajar bahasa daerah, khususnya bahasa Marin.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program peningkatan kualitas pendidikan bahasa daerah, sekaligus memperkuat pelestarian bahasa dan budaya lokal sebagai wujud keberagaman yang kaya dan unik.

Bimtek yang dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 27 s.d 29 Oktober 2025 di Grand Abe Hotel, Kota Jayapura, Papua, diikuti oleh staf Disdik Kabupaten Merauje, dengan narasumber dari Balai Bahasa Papua dan SIL Papua.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke, Romanus Kande Kahol, S.IP., M.Si menegaskan pentingnya pelestarian bahasa daerah sebagai identitas kultural sekaligus media pembelajaran yang harus terus digalakkan.

“Bahasa Marin merupakan salah satu warisan budaya yang harus kita jaga dan lestarikan. melalui bimtek ini. Pelestarian bahasa daerah merupakan bagian penting dari misi pendidikan kebudayaan daerah sekaligus identitas bangsa,” ujar kepala dinas.

Kepala dinas berharap, dengan semangat pelestarian bahasa dan budaya daerah yang kuat, Kabupaten Merauke semakin optimis bahwa bahasa Marin dapat terus hidup dan berkembang sebagai simbol kekayaan Papua yang beraneka ragam.

Selain itu, melalui pendidikan dan kerja sama antarlembaga, warisan budaya ini tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga masa depan yang hidup dan dinamis.

“Modul dan bahan ajar yang dikembangkan akan dikemas dengan metode pembelajaran yang menarik dan mudah dipahami untuk anak-anak sekolah di semua jenjang pendidikan,” ujar kepala dinas.

Kasubag Umum Balai Bahasa Papua, Yohanis Sanjoko, S.Pd., M.A menambahkan, kerja sama ini adalah bentuk dukungan pemerintah daerah untuk memperkuat bahasa daerah di berbagai tingkat pendidikan.

“Bahasa daerah kian terancam tergeser oleh penggunaan bahasa nasional dan asing. Oleh karena itu, Balai Bahasa Papua bersama Disdik Merauke berupaya menghadirkan bahan ajar yang representatif dan terstandar sehingga pembelajaran bahasa lokal bisa berjalan optimal,” ujar Yohanis.

“Terdapat 22 bahasa yang berkembang dengan jumlah penuturannya sangat sedikit. Kalau tidak ditangani secara cepat, maka dalam beberapa tahun ke depan bisa terancam punah,” sambungnya.

Dalam bimtek tersebut, peserta mendapatkan panduan menyusun modul yang lengkap dengan pendekatan pembelajaran kontekstual, metode interaktif, efektif dan menarik, sehingga menghasilkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa di era modern tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Selain itu, materi bimtek juga membahas cara mendokumentasikan cerita, tradisi, dan budaya oleh komunitas setempat sebagai sumber belajar yang autentik.

Diharapkan modul dan bahan ajar yang direncanakan akan di launching Mei 2026 dapat digunakan secara luas dan kontinu, sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang kuat akan bahasa dan budaya.

 

(ldr)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *