Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jayapura adalah Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si meresmikan kegiatan FTBI Port Numbay 2025 dengan menabuh Tifa. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• FTBI sebagai wadah dengan tujuan mengapresiasi dan memfasilitasi generasi muda menjadi penutur aktif bahasa daerah atau bahasa ibu mereka.
• FTBI bukan sekadar lomba, tetapi langkah strategis menghidupkan kembali bahasa daerah di kalangan generasi muda agar bahasa ibu tetap lestari dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
• Mengembangkan minat, bakat, potensi, dan kreativitas siswa dalam bahasa dan sastra daerah serta membentuk karakter berbudaya dan berkarakter unggul.
FESTIVAL Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Port Numbay adalah program yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura melalui Bidang Kebudayaan, sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar, khususnya pada program Revitalisasi Bahasa Daerah.
Festival yang berlangsung di Hotel Suni Abepura dari tanggal 18 s.d 19 September 2025 ini bertujuan untuk mengapresiasi dan memfasilitasi generasi muda menjadi penutur aktif bahasa daerah atau bahasa ibu mereka.
Kegiatan yang diselenggarakan tahun ketiga ini mencakup berbagai lomba seperti membaca puisi, mendongeng, pidato, menyanyi tunggal, stand up komedi, tulis cerpen, dan menulis dalam bahasa daerah, seperti Bahasa Skouw, Nafri, Kayo Pulau, Kayu Batu, Sentani.
FTBI bukan hanya ajang lomba, tetapi juga langkah strategis untuk menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda agar bahasa ibu tidak punah dan tetap lestari dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga, FTBI Port Numbay 2025 yang melibatkan 120 pelajar jenjang SD dan SMP termasuk sanggar-sanggar dan komunitas untuk membantu “mengorbitkan penutur aktif” bahasa ibu dengan cara memberikan wadah apresiasi.
Serta pembelajaran sehingga lebih banyak generasi muda dapat menjadi penutur aktif bahasa daerah mereka, agar bahasa ibu tetap berkembang dan digunakan secara luas dalam kehidupan sosial dan pendidikan.
“Jadi, FTBI ini sebagai ajang praksis dan apresiasi untuk menumbuhkan dan mengorbitkan penutur aktif bahasa ibu agar terjaga dan lestari di era modern,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd mengatakan FTBI sebagai warisan budaya bangsa yang sangat bernilai.
Sehingga anak-anak dan generasi muda termotivasi mencintai, menguasai, dan menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah serta masyarakat sekitar.
Dia juga mengatakan festival ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga gerakan nyata untuk mengembangkan minat, bakat, potensi, dan kreativitas siswa dalam bidang bahasa dan sastra daerah.
“Kegiatan ini diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang berbudaya, berkarakter unggul, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap jati diri bangsa,” ujar kepala dinas.
Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jayapura adalah Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si mewakili Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H berharap adanya dukungan lebih lanjut dari lembaga terkait seperti dinas pendidikan dengan pembuatan kebijakan yang konkret.
Misalnya menetapkan hari khusus berbahasa daerah di sekolah, serta pembuatan peraturan daerah yang menguatkan pemakaian bahasa daerah sebagai muatan lokal di sekolah.
“Festival ini menjadi ajang strategis dalam penguatan pendidikan dan kebudayaan daerah, serta sebagai upaya menyaring dan mempersiapkan generasi penerus agar menjadi pemimpin masa depan yang mampu menghargai tradisi dan budaya lokal,” ujar Merauje.
(ldr)






