Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Jayapura, Septinus Ireeuw, S.Sos menyampaikan sambutan pada sosialisasi dan bimtek pengelolaan perpustakaan sekolah. (TIFAPOS/La Ramah)
TIFAPOS.id Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah berupaya meningkatkan kompetensi pengelola perpustakaan.
Upaya itu dilakukan melalui sosialisasi akreditasi perpustakaan sekolah serta bimbingan teknis pengelolaan dan pengembangan bahan perpustakaan sekolah SD/MI, SMP, SMA, SMK Se Kota Jayapura 2025.
Kegiatan yang berlangsung dua hari di Hotel Fox Jayapura, Selasa (10/6/2025) diikuti 25 peserta dari 25 sekolah, terdiri dari sembilan SMA/SMK, tujuh SMP, dan tujuh SD.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Jayapura, Septinus Ireeuw, S.Sos mengatakan, rutin mengadakan sosialisasi dan bimtek untuk meningkatkan kapasitas tenaga perpustakaan dan pustakawan, khususnya di tingkat sekolah.
Dia juga mengatakan, dinas perpustakaan melakukan pembinaan secara berkelanjutan kepada pengelola perpustakaan sekolah agar pengelolaan koleksi, program literasi, promosi membaca, dan pemeliharaan fasilitas perpustakaan berjalan optimal.

Pembinaan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap pengelola sehingga perpustakaan dapat menjadi sumber pengetahuan efektif dan menyenangkan bagi siswa.
Selain itu, peningkatan kompetensi pustakawan agar mampu menjembatani kebutuhan informasi civitas akademika dengan koleksi perpustakaan secara maksimal.
“Upaya ini diarahkan agar pengelola perpustakaan sekolah memiliki kompetensi yang memadai dan memberikan layanan berkualitas demi mendukung peningkatan literasi dan kualitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah,” ujar Ireeuw.
Dia juga mengatakan, pelatihan dan bimtek sangat penting untuk SDM perpustakaan sekolah agar mampu mengelola perpustakaan secara lebih efektif dan sesuai perkembangan teknologi terbaru.
Memperbaiki kinerja pustakawan, termasuk kualitas pekerjaan, ketepatan waktu, dan kemampuan bekerja sama, sehingga layanan perpustakaan menjadi lebih optimal dan menarik bagi pemustaka.
Membekali pustakawan dengan pengetahuan dan keterampilan baru untuk menghadapi tantangan operasional, seperti mengatasi masalah sistem otomasi perpustakaan dan pengelolaan koleksi.
Meningkatkan kepercayaan diri pengelola perpustakaan dalam menjalankan tugasnya, termasuk kemampuan promosi perpustakaan agar lebih dikenal dan dimanfaatkan oleh siswa dan masyarakat sekolah.

Selain itu, mendukung pencapaian standar pengelolaan perpustakaan dan akreditasi perpustakaan sekolah yang dapat meningkatkan kualitas layanan dan motivasi pengelola perpustakaan.
Sebagai media pembelajaran berkelanjutan yang membantu pengelola perpustakaan mengikuti perkembangan ilmu perpustakaan dan teknologi informasi secara terus-menerus.
“Pelatihan dan bimbingan teknis adalah kunci untuk mengembangkan SDM perpustakaan sekolah agar mampu memberikan layanan yang profesional dan mendukung peningkatan literasi di sekolah,” ujar Ireeuw.
Dikatakan Ireeuw, kegiatan pelatihan untuk pengelola perpustakaan sekolah meliputi berbagai materi dan metode praktis, seperti manajemen perpustakaan agar pengelolaan koleksi, organisasi informasi, dan pelayanan perpustakaan yang efektif sesuai Standar Nasional Perpustakaan.
Pengadaan dan pengolahan koleksi sehingga cara memilih, mengolah, dan merawat bahan pustaka agar koleksi perpustakaan berkualitas dan terawat.
Pelayanan prima dan promosi perpustakaan sehingga teknik memberikan layanan terbaik dan mempromosikan perpustakaan, termasuk pemanfaatan media sosial seperti Instagram untuk menarik minat siswa.
Selain itu, otomasi perpustakaan untuk pelatihan penggunaan sistem otomasi perpustakaan untuk mempermudah pengelolaan dan pencarian koleksi.
Penelusuran sumber informasi elektronik (e-resources), dengan cara mencari dan memanfaatkan sumber belajar digital dari Perpusnas, jurnal, dan sumber lain.
Selain itu, praktik reading theatre dan pengembangan minat baca siswa melalui metode kreatif untuk meningkatkan literasi dan minat baca siswa.
Pelatihan katalogisasi dan klasifikasi dengan pembuatan katalog dan pengelolaan klasifikasi bahan pustaka menggunakan sistem seperti DDC (Dewey Decimal Classification).
Kemudian, metode pelatihan berbasis ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, brainstorming, demonstrasi, dan praktik langsung di perpustakaan yang sudah memenuhi standar.
“Pelatihan diselenggarakan secara tatap muka dengan durasi dan sertifikasi tertentu untuk meningkatkan kompetensi pustakawan dan guru yang mengelola perpustakaan sekolah,” ujar Ireeuw.

Kesempatan tersebut, dikatakan Ireeuw, keberhasilan program peningkatan kapasitas SDM pengelola perpustakaan dapat dilihat dari peningkatan kompetensi dan kinerja pengelola perpustakaan setelah mengikuti pelatihan dasar dan bimbingan teknis.
Diantaranya, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan peningkatan kemampuan dalam katalogisasi, layanan, dan perawatan bahan pustaka.
Selain itu, adanya kesamaan persepsi dan peningkatan kualitas layanan perpustakaan yang berstandar nasional, dan kemampuan dalam pengelolaan perpustakaan berbasis digital.
Salah satunya memperkuat jejaring informasi antar pengelola perpustakaan, seperti kegiatan bimbingan teknis Sistem Pengelolaan Perpustakaan berbasis TIK.
Motivasi dan komitmen pengelola perpustakaan meningkat, yang berdampak pada peningkatan minat baca masyarakat dan pencapaian standar akreditasi perpustakaan.
“Keberhasilan program ini diukur dari peningkatan kualitas layanan perpustakaan, kemampuan teknis pengelola, serta kontribusinya dalam mendukung literasi dan pendidikan di sekolah maupun masyarakat,” ujar Ireeuw.
Meski demikian, dikatakan Ireeuw, tantangan utama dalam meningkatkan kualitas SDM pengelola perpustakaan sekolah, yaitu perpustakaan sekolah kekurangan pustakawan yang terlatih dan berkompeten.
Bahkan, sering dikelola oleh guru atau staf non-pustakawan yang kurang memiliki keahlian bidang perpustakaan.
Selain itu, minimnya program pelatihan, sertifikasi, dan pembinaan berkelanjutan membuat pengelola perpustakaan sulit mengikuti perkembangan ilmu perpustakaan dan teknologi informasi.
Motivasi dan penghargaan yang rendah (gaji), fasilitas dan anggaran yang terbatas, persepsi dan prioritas yang rendah terhadap perpustakaan sekolah, perubahan peran pustakawan yang menuntut adaptasi.
“Mengatasi tantangan ini memerlukan dukungan dari pemerintah, sekolah, dan berbagai pihak terkait melalui peningkatan pelatihan, rekrutmen pustakawan profesional, alokasi anggaran memadai, serta pengembangan fasilitas perpustakaan yang layak,” ujar Ireeuw.

Ireeuw berharap, agar pengelola perpustakaan mendapatkan pelatihan berkala terkait manajemen perpustakaan, teknologi informasi, serta layanan literasi yang modern.
SDM perpustakaan harus mampu mengoperasikan sistem otomasi perpustakaan, digitalisasi koleksi, dan penggunaan aplikasi perpustakaan digital.
Pengelola perpustakaan diharapkan memiliki sikap profesional, disiplin, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya dam memiliki motivasi tinggi untuk terus belajar dan mengembangkan diri demi pelayanan yang lebih baik.
Dia juga menekankan agar pengelola mampu menciptakan layanan perpustakaan yang menarik, ramah, dan inovatif sehingga meningkatkan minat baca siswa.
Pengelola perpustakaan diharapkan aktif berkolaborasi dengan guru dan siswa dalam mengembangkan program literasi dan kegiatan perpustakaan.
“Dengan fokus pada peningkatan kompetensi, profesionalisme, inovasi layanan, dan dukungan yang memadai, diharapkan SDM pengelola perpustakaan sekolah dapat berkontribusi secara optimal dalam menciptakan budaya literasi yang kuat di lingkungan sekolah,” ujar Ireeuw.
Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kota Jayapura, Frederik Awarawi, S.H., M.Hum mewakili Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, S.H., M.H mengatakan, pengelola perpustakaan mampu memahami manajemen perpustakaan.
Sesuai standar dan akreditasi perpustakaan sehingga tugas kepustakawanan berjalan optimal, dan terbentuk perpustakaan sekolah yang memenuhi standar nasional dan mampu memberikan pelayanan maksimal kepada pelajar.
Selain itu, kegiatan bimtek, pelatihan, dan pembinaan berkelanjutan, sehingga SDM perpustakaan dapat memiliki kemampuan literasi, life skills, dan learning skills yang memadai.
Serta, mendorong tumbuhnya kebiasaan membaca di kalangan siswa melalui perpustakaan yang dikelola dengan baik.
“Harapan Pemkot Jayapura agar melahirkan pengelola perpustakaan sekolah yang profesional dan kompeten, sehingga perpustakaan dapat berperan optimal dalam mendukung pendidikan dan meningkatkan minat baca siswa,” ujar Awarawi.






