Kepala Bidang Industri Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura, Achmad Saichul. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Meningkatkan produksi, omzet, kualitas, dan kuantitas produk IKM.
• Pembinaan dilakukan rutin dan berkelanjutan, termasuk monitoring hasil pembinaan.
• Fokus usaha adalah kerajinan tangan dan kuliner.
DINAS Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kota Jayapura, Papua, memperkuat peran Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui pembinaan berkelanjutan yang meliputi pendampingan dan pelatihan termasuk pemberian modal.
Program ini bertujuan agar IKM dapat meningkatkan produksi, omzet, kualitas, dan kuantitas produk sehingga mampu berkontribusi signifikan dalam laju pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan, dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, membantu IKM dalam fasilitasi akses pasar, dan kolaborasi dengan berbagai instansi untuk menembus pasar nasional hingga internasional dengan dukungan sertifikasi dan pameran produk.
“Pembinaan dilakukan secara rutin untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas usaha mikro kecil dan menengah secara menyeluruh, termasuk monitoring agar hasil pembinaan berkelanjutan dan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi pelaku IKM,” ujar Kepala Bidang Industri Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura, Achmad Saichul di Kantor Wali Kota Jayapura, Senin, 22 September 2025.
Dinas juga mendorong pelaku IKM agar menjaga kualitas produk melibatkan pemanfaatan teknologi, inovasi, kreativitas, dan pemanfaatan bahan baku lokal yang melimpah untuk menambah nilai produk.
IKM juga didorong membangun kemitraan usaha agar mampu tumbuh dan berkontribusi signifikan pada perekonomian nasional serta membuka lapangan kerja.
Tahun Anggaran 2025, dinas melatih 125 IKM tersebar di lima distrik dengan melibatkan fasilitator. Setiap fasilitator mendampingi 25 IKM masing-masing distrik.
Pendamping ini dilakukan selama delapan bulan dengan jenis usaha seperti kerajinan tangan dan kuliner untuk meningkatkan pendapatan usaha IKM.
Setelah pendamping di tahun pertama, tahun kedua diberikan pelatihan dan bantuan termasuk evaluasi untuk melihat IKM yang sudah mandiri.
Harapannya melalui pembinaan dapat meningkatkan daya saing dan kemandirian pelaku IKM di pasar secara lebih efektif, sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan pelaku usaha.
“Pertahankan mutu dan kualitas produk. Target kami minimal 10% atau 15 IKM sudah bisa mandiri,” ujar Achmad.
Kepala Bidang IKM menambahkan, untuk meningkatkan efektivitas monitoring dan evaluasi (monev) program, yaitu dimulai dengan penetapan tujuan dan sasaran yang spesifik, terukur, relevan, dan terjangkau dalam batas waktu tertentu sehingga hasil monitoring dan evaluasi dapat fokus pada indikator kinerja utama program.
Selain itu, data dikumpulkan secara terstruktur, berkala, dan menggunakan metode yang tepat (survei, wawancara, observasi) dengan menjaga kualitas dan keakuratan data.
Data yang terkumpul dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi pencapaian target, hambatan, dan peluang perbaikan sehingga objektif dan sistematis agar dapat menghasilkan rekomendasi bermakna.
Laporan hasil monev yang lengkap, mudah dipahami, dan menyertakan tindakan perbaikan agar meningkatkan akuntabilitas dan menjadi bahan evaluasi berikutnya.
Menggunakan teknologi seperti aplikasi mobile, big data, monitoring real-time, serta visualisasi data interaktif dapat mempercepat proses, meningkatkan ketepatan data, dan memudahkan komunikasi hasil monev.
Melibatkan pemangku kepentingan dan penerima manfaat dalam proses monitoring dan evaluasi dapat meningkatkan relevansi temuan dan penerimaan hasil evaluasi.
“Efektivitas monitoring dan evaluasi program dapat meningkat sehingga program dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak yang signifikan terhadap pelaku IKM,” ujar Achmad.
(ldr)






