Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura saat menjajakan dagangan mereka. (TIFAPOS/Istimewa)
Oleh: Christine Ara Wafumilena, Christi
Monalisa Tokoro, Samuel Roy Liberta, Deki Meabun, dan Niol Giban
PAGI hari di ruang kuliah Universitas Cenderawasih selalu dimulai dengan rutinitas yang sama. Mahasiswa datang membawa buku, laptop, dan berbagai tugas yang menanti untuk diselesaikan.
Suasana kelas biasanya dipenuhi percakapan ringan, tawa kecil, dan kesibukan
masing-masing. Namun, pada suatu pagi, suasana di salah satu sudut kelas terasa berbeda.
Kami duduk melingkar, bukan sekadar membahas materi kuliah, tetapi merangkai sebuah ide yang perlahan tumbuh menjadi rencana usaha.
Semua berawal dari tugas mata kuliah yang diampu oleh dosen Kurniawan Patma dan
Meylen Kambuaya. Tugas tersebut meminta mahasiswa untuk membuat proyek usaha kecil
yang dapat dipraktikkan secara langsung.
Awalnya, tugas ini terasa seperti tugas biasa.
Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai melihatnya sebagai peluang-peluang untuk
belajar langsung bagaimana memulai usaha, bahkan dari kondisi yang sangat sederhana.
Kami datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan, sebagian besar dari kami adalah mahasiswa perantau yang hidup sebagai anak kos.
Kehidupan sebagai anak kos mengajarkan
kami untuk hidup sederhana dan mengatur keuangan dengan sangat hati-hati. Uang saku yang kami miliki sering kali hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Ketika ide untuk membangun usaha mulai muncul, tantangan pertama langsung terasa, keterbatasan modal. Namun, kami tidak ingin berhenti hanya karena keterbatasan. Justru dari situlah semangat kami muncul.
Kami sepakat untuk mengumpulkan modal dari uang saku masing-masing, walaupun jumlahnya sangat terbatas. Dari langkah kecil itu, lahirlah nama usaha kami dengan nama Jang Putus (Jagung Asli Anak Negri Punya Rasa Unik dan Spesial).
Nama ini bukan sekadar identitas, tetapi juga doa dan semangat kami untuk tidak menyerah dalam keadaan apa pun. Kami kemudian mulai memikirkan produk yang bisa dibuat dengan modal sederhana, tetapi tetap menarik.
Setelah berbagai pertimbangan, kami memilih untuk menjual “corn ribs”, olahan jagung yang dipotong menyerupai tulang rusuk dengan rasa gurih dan unik, serta minuman segar lemon tea sebagai pelengkap.
Produk ini kami pilih karena bahan bakunya
mudah didapat dan sesuai dengan kemampuan kami. Proses membangun usaha ini tidak selalu berjalan mulus. Kami sering berdiskusi di ruang
kuliah sebelum perkuliahan dimulai, bahkan terkadang melanjutkannya di luar jam kampus.
Kami membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang fokus pada produksi, ada yang mencari bahan, dan ada pula yang mengatur pemasaran.
Saat produk pertama kami jadi, ada rasa bangga sekaligus ragu. Kami bertanya-tanya,
apakah produk ini akan diterima? Apakah ada yang mau membeli? Namun, kami tetap
mencoba. Kami mulai menawarkan “corn ribs dan lemon tea” kepada teman-teman di
kampus.
Perlahan, respon positif mulai datang. Teman-teman kami tertarik mencoba, bahkan ada
yang kembali membeli. Hal kecil itu memberikan semangat besar bagi kami. Kami mulai percaya bahwa usaha ini memiliki peluang untuk berkembang.
Bagi kami, Jang Putus bukan hanya tentang menjual produk. Lebih dari itu, usaha ini
adalah proses belajar yang nyata. Kami belajar tentang kerja sama, tanggung jawab,
manajemen waktu, dan bagaimana menghadapi keterbatasan dengan kreativitas.
Kami juga belajar bahwa memulai sesuatu tidak harus menunggu sempurna. Perjalanan ini membuktikan bahwa ide besar tidak selalu harus dimulai dengan modal besar.
Dari ruang kuliah sederhana di Universitas Cenderawasih, dari diskusi pagi yang
penuh semangat, dan dari kehidupan sederhana sebagai anak kos, lahirlah sebuah usaha kecil yang membawa harapan besar.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa peluang bisa datang dari mana saja, bahkan dari
sebuah tugas kuliah.
Selama ada keberanian untuk mencoba, kemauan untuk bekerja sama, dan semangat untuk tidak menyerah, langkah kecil hari ini bisa menjadi awal dari perjalanan
besar di masa depan.
(Penulis adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Cenderawasih Jayapura)
(ldr)










