Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura saat menjajakan dagangan mereka. (TIFAPOS/Istimewa)
Oleh: Raymond Axel Mara, Zahrah Nur Salzabila, Nur Hidayah, Putri Widarajati, Vika Febrianti, Yolenta A. Bung
KAMI ditugaskan untuk mengolah suatu produk makanan berbahan dasar pangan lokal Papua dan diperjual belikan untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi dan Presentasi Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Cenderawasih, yang diampu oleh Kurniawan Patma dan Maylen Kathrin Petra Kambuaya.
Kelompok kami bernama bernama Pizz & Roll, memilih risol ubi ungu dan nugget pisang sebagai produk olahan yang akan kami jual. Kedua jenis makanan tersebut adalah salah dua produk yang menjadi favorit banyak orang dengan harga terjangkau.
Tetapi, bagi saya keduanya memiliki nilai yang sangat mahal dan berharga. Hal tersebut tidak diukur dari seluruh biaya serta tenaga yang kami habiskan untuk menjadikan suatu produk yang siap diperjual belikan, tetapi bagaimana produk tersebut membuat kami belajar untuk saling menerima setiap kami.
Kami terdiri dari enam orang dengan latar belakang keluarga, suku dan agama yang berbeda. Ada yang suku Papua, Bugis dan Jawa. Ada juga yang beragama Kristen Protestan, Islam, dan Katolik.
Perbedaan inilah yang membentuk keunikan dari setiap karakter kami. Situasi memanas ketika kami semua sudah lelah, tetapi harus menyelesaikan produk olahan kami. Ada yang terbiasa bekerja dengan nada tinggi, ada juga yang tidak. Ada yang ingin kerja cepat, ada yang ingin santai.
Hal-hal tersebut membuat kami menjadi salah paham, saling menyalahkan dan masing-masing merasa bahwa diri kami sendiri yang paling berkontribusi besar dalam proses pembuatan.
Selain itu, kami juga dikejar dengan deadline tugas lain, sehingga semua emosi didalam diri kami seperti akan segera meledak. Konflik diantara kami tidak berakhir disitu.
Keesokan harinya pada saat akan berjualan kami masih berdebat tentang siapa yang membawa baskom, sutil, saringan minyak, dan peralatan lainnya.
Perdebatan kami masih berlanjut ketika melayani pembeli. Kami menyediakan dua olahan produk, salah satunya terdiri dari dua varian rasa yang berbeda tetapi kami hanya punya satu kompor dan satu wajan karena keterbatasan modal.
Kami sering adu mulut saat menerima pesanan bahkan saat memasukkan pesanan ke dalam wadah, sering kebingungan untuk membedakan mana risol yang keju dan mana risol yang cokelat.
Kami pulang dengan hati yang panas dan penuh sumpah serapah, kami bukan baru kenal dan sering bermain bersama sebelumnya, ternyata masih banyak hal diantara kami yang baru dikenali dalam kegiatan ini.
Kami pun tidak ingin berlama-lama dalam situasi ini, setelah tiba di rumah, kami saling mengucapkan terima kasih dan memohon maaf atas setiap kesalahpahaman yang sudah terjadi.
Kegiatan ini mengajarkan kami untuk saling mengenal, belajar memaafkan dan menerima karakter setiap kami.
Suatu hal yang sangat manis menurut kami, yaitu tidak memilih untuk berlarut-larut dalam ego tetapi memilih untuk kembali saling merangkul dan berjalan bersama.
Kalau kata Sore di filmnya “Mau diulang ratusan kali pun, aku bakalan tetap milih kamu deh”.
(Penulis adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Cenderawasih Jayapura)
(ldr)










