Foto bersama narasumber dan peserta kegiatan coffee morning yang digelar FKUB Kota Jayapura. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Pentingnya pendidikan keagamaan yang inklusif serta perhatian khusus terhadap peran tokoh agama di masyarakat.
• Menekankan pentingnya memberikan pikiran dan langkah nyata yang dapat menciptakan keamanan dan kenyamanan di tengah masyarakat yang plural.
• Bersinergi dan menjaga toleransi demi keutuhan sosial di Kota Jayapura.
FORUM Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Jayapura, Papua, menggelar kegiatan coffee morning yang mengusung tema “Sehati Merajut Keberagaman Masyarakat Kota Jayapura”.
Acara berlangsung di Gedung Serbaguna Abraham Merauje, Kantor Kampung Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kamis, 27 November 2025.
Kegiatan ini menjadi ajang pertemuan yang hangat dan konstruktif antara tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat guna mempererat hubungan serta membangun suasana keberagaman yang damai dan harmonis di tengah masyarakat Jayapura.
Kegiatan tersebut menghadirkan lima narasumber utama, yaitu Ketua FKUB Kota Jayapura, Pdt. Hein Karlos Mano, S.Th., M.Si, Kapolsek Muara Tami, AKP H. Zakarudin, S.Pd., M.M.
Selain itu, Pasiter Kodim 1701 Jayapura, Mayor Inf Afandi mewakili Dandim 1701 Jayapura, Letkol Inf Taufik Hidayat, Kepala Badan Kesbangpol Kota Jayapura, Raimondus Mote, S.STP., M.Si, dan perwakilan Lembaga Masyarakat Adat Port Numbay.
Diskusi dipandu oleh moderator Pdt. Dr. Christian Warow, yang mengarahkan dialog agar berjalan lancar dan fokus pada tema keberagaman serta kerukunan.
Ketua FKUB Kota Jayapura, Pdt. Hein Karlos Mano, S.Th., M.Si, menekankan pentingnya memberikan pikiran dan langkah nyata yang dapat menciptakan keamanan dan kenyamanan di tengah masyarakat yang plural.
Ia mengajak semua pihak untuk terus bersinergi dan menjaga toleransi demi keutuhan sosial di Kota Jayapura.
Selain itu, keberagaman bukanlah penghalang, tetapi sebuah kekuatan yang harus dijaga dan dirawat bersama agar tercipta kedamaian dan pembangunan yang berkelanjutan.
Ketua FKUB menjelaskan alasan mengapa pemilihan lokasi kegiatan kali ini jatuh pada Kampung Holtekamp.
Menurutnya, Kampung Holtekamp merupakan simbol pertumbuhan keberagaman yang sangat pesat di Kota Jayapura.
Selain sebagai bentuk apresiasi kepada pemerintahan kampung Holtekamp, penggunaan Gedung Serbaguna Abraham Merauje yang representatif juga menunjukkan kemajuan fasilitas publik di kampung tersebut.
Lokasi ini sekaligus menjadi perwujudan visi misi Pemerintah Kota Jayapura yang berkomitmen membangun masyarakat dari tingkat kampung sebagai fondasi utama pembangunan daerah.
Salah satu poin penting yang dibahas dalam coffee morning ini adalah pentingnya pendidikan keagamaan yang inklusif serta perhatian khusus terhadap peran tokoh agama di masyarakat.
Ketua FKUB menegaskan, pendidikan keagamaan harus menjadi jembatan untuk menumbuhkan sikap saling menghargai antar umat beragama, tidak menimbulkan perpecahan.
Tokoh agama memiliki peran strategis bukan hanya sebagai pembimbing spiritual, tetapi juga sebagai agen perdamaian dan penguat integrasi sosial di masyarakat yang majemuk.
“Kami sangat berterima kasih kepada para narasumber yang telah berbagi pemikiran dan pengalaman, serta semua peserta yang telah berpartisipasi aktif dalam Coffee Morning ini. Semoga kegiatan ini dapat memperkuat semangat kebersamaan dan sikap sehati dalam merajut keberagaman di Kota Jayapura,” ujar Ketua FKUB.
Ketua FKUB menambahkan, acara coffee morning ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen lintas agama, adat, dan masyarakat dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan.
Sehingga, kolaborasi dari berbagai elemen komunitas, FKUB Kota Jayapura berharap keberagaman yang ada dapat terus menjadi sumber kekuatan dan inspirasi untuk pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan di wilayahnya.
“Selain dialog dan diskusi, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antar tokoh masyarakat, sehingga tercipta suasana yang ramah dan penuh kehangatan dalam merajut kebersamaan,” ujar Ketua FKUB.
(ldr)





