Plt. Kepala Dinas Kesehatan Papua, Dr. dr. Arry Pongtiku, MD., MHM., PhD. (TIFAPOS/La Ramah)
TIFAPOS.id – Pemerintah Papua melalui Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan guna mencegah dan mengendalikan Tuberkulosis (TBC).
Deteksi dini sangat penting karena TBC menular melalui udara dari penderita aktif yang batuk atau bersin.
Pemeriksaan rutin membantu menemukan kasus lebih awal sehingga pengobatan bisa segera dilakukan, mencegah penularan lebih luas.
Penyakit TBC (Tuberkulosis) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang biasanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyerang organ lain seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.
TBC menular melalui udara ketika penderita aktif batuk, bersin, berbicara, atau meludah, sehingga orang lain menghirup bakteri tersebut.
Gejala utama TBC meliputi batuk berkepanjangan lebih dari 3 minggu, batuk berdahak atau berdarah, nyeri dada, demam, berkeringat malam hari, penurunan berat badan, kelelahan, dan kurang nafsu makan.
“Jika tidak diobati, TBC bisa berakibat fatal. TBC adalah penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan jika ditangani dengan benar,” ujar Plt. Kepala Dinas Kesehatan Papua, Dr. dr. Arry Pongtiku, MD., MHM., PhD ditemui di Hotel Horison Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Selasa (22/4/2025).
Ia juga mengatakan, pengobatan TBC dilakukan dengan kombinasi antibiotik standar selama minimal 6 bulan, seperti rifampisin dan isoniazid. Pengobatan harus dijalani lengkap agar penyakit sembuh dan mencegah resistensi obat.
Selain itu, pencegahan TBC dapat dilakukan dengan vaksin BCG yang diberikan pada bayi, serta menghindari kontak dengan penderita aktif dan memakai masker di tempat ramai.
Kesempatan tersebut, Arry menjelaskan upaya pencegahan yang dianjurkan, yaitu vaksinasi BCG untuk anak-anak sesuai jadwal imunisasi. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seperti mencuci tangan, membuka ventilasi udara, dan menutup mulut saat batuk atau bersin.
Menghindari kontak dekat dengan penderita TBC aktif dan menggunakan masker bila perlu. Pemerintah juga melakukan kampanye kesehatan, pelatihan tenaga medis, dan kolaborasi multisektoral untuk percepatan penanganan TBC.
“Dengan pemeriksaan kesehatan rutin dan kesadaran masyarakat, diharapkan penularan TBC dapat ditekan dan pengobatan dapat berjalan efektif sehingga masyarakat hidup lebih sehat dan produktif,” ujar Arry.
Ia juga mengatakan masyarakat agar mencegah penyebaran TBC di rumah, diantaranya gunakan masker oleh penderita dan anggota keluarga saat berada di dalam rumah, terutama saat di dekat penderita.
Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin dengan tisu atau siku bagian dalam, dan segera buang tisu ke tempat sampah tertutup. Rutin membuka jendela dan pintu untuk memastikan sirkulasi udara yang baik sehingga bakteri TBC tidak menumpuk di dalam ruangan.
Barang pribadi seperti sikat gigi, handuk, alat makan dengan penderita TBC jangan sampai tertukar. Cuci tangan dengan sabun secara rutin, terutama setelah kontak dengan penderita atau benda yang mungkin terkontaminasi.
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, termasuk membuang dahak dan ludah dengan benar di kamar mandi dan membersihkan permukaan yang sering disentuh.
Serta, meningkatkan daya tahan tubuh dengan pola makan sehat, olahraga, dan istirahat cukup bagi seluruh anggota keluarga guna mengurangi risiko penyebaran TBC di lingkungan rumah secara signifikan.
Meski tidak disebutkan angka pastinya penderita TBC di Papua, Arry mengaku Dinkes Papua terus berupaya mendorong deteksi dan pengobatan dini dengan SDM, peralatan, obat-obatan memadai.






