Beranda / Ragam Berita / Bullying di sekolah bisa mencoreng prestasi pendidikan

Bullying di sekolah bisa mencoreng prestasi pendidikan

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura Abdul Majid bersama siswa. (TIFAPOS/Ramah)

TIFAPOS.id – Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura Abdul Majid mengatakan bullying atau perundungan di sekolah bisa mencoreng prestasi pendidikan.

“Jangan sampai ada kasus bullying di sekolah, karena bisa mencoreng prestasi pendidikan yang sudah diraih selama ini,” ujar Majid di SMK Negeri 2 Bisnis dan Teknologi Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Rabu (4/9/2024).

Dikatakan Majid, bullying adalah tindakan mengganggu, mengusik, atau menyakiti orang lain secara fisik atau psikis yang dilakukan secara berulang kali.

Bullying dapat berupa, lanjut Majid, verbal dan non verbal. Adapun bullying dalam bentuk verbal seperti cacian, umpatan kebencian, menyoraki, menyindir, mengolok-olok, menghina, dan mengancam.

Sementara bullying non verbal seperti kekerasan fisik (menonjok, mendorong, memukul, menendang, dan menggigit.

Penyebab bullying diantaranya ketidakseimbangan antara pelaku dengan korban. Bisa berupa ukuran badan, fisik, kepandaian komunikasi, gender hingga status sosial.

Penyeban lain yang menyertai biasanya terkait lingkungan pergaulan yang salah dan pengaruh teman sebaya.

“Saya minta tim satgas tim percepatan tindak kekerasan di sekolah agar jangan sampai ada peristiwa yang viral, karena bisa mencoreng prestasi pendidikan kita,” ujarnya.

Majid menjelaskan, bullying berdampak pada prestasi belajar, karena anak sulit berkonsentrasi serta menyebabkan anak sering tidak masuk sekolah.

Bagi anak yang menjadi korban, lanjutnya, tentu saja berdampak pada masalah kesehatan mental mereka. Anak terisolasi secara sosial, tidak memiliki teman dekat atau sahabat, dan tidak memiliki hubungan baik dengan orang tua.

“Ini bisa menjadi trauma panjang. Trauma ini mempengaruhi pengesuaian diri anak dengan lingkungan, terutama sekolah. Bullying menjadi faktor utama yang bisa mempengaruhi prestasi akademik hingga putus sekolah,” ujarnya.

Majid berharap satuan pendidikan di Kota Jayapura mempunyai program pencegahan, intervensi maupun sosialisasi yang efektif. Sinergi antara sekolah dan orang tua sangat penting dibangun dan diperkuat lagi.

“Pola asuh yang baik adalah yang bisa memberikan kesempatan kepada anak mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan hatinya,” ujarnya.

“Saya harap kepala sekolah dan guru menekankan pendidikan karakter kepada peserta didiknya, baik berperilaku baik, sopan, menghargai sesama teman dan menghargai teman,” ujarnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *