Beranda / Opini / BTM: Pemimpin humanis yang menghargai kritik sebagai suara rakyat

BTM: Pemimpin humanis yang menghargai kritik sebagai suara rakyat

Calon Gubernur Papua, Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, M.M bersama istri Kristina R.I. Luluporo Mano, S.IP., M.AP pada momen bersama tim kampanye. (TIFAPOS/Jubir BTM-CK)

Oleh : Marshel Morin

TIFAPOS.id Sosok Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, M.M, calon Gubernur Papua yang menang Pemilihan Gubernur Papua 2024 , namun putusan di Mahkamah Konstitusi dilakukan pemungutan suara ulang (PSU), dikenal sebagai sosok yang tidak alergi terhadap kritikan.

Diketahui, sejak menjabat sebagai Camat (pemimpin kecamatan yang merupakan perangkat daerah di tingkat kabupaten atau kota) hingga terpilih menjadi wali kota selama dua periode, BTM (sapaan akrab) dikenal sebagai sosok pemimpin yang membuka ruang bagi kritik dan masukan dari masyarakat.

Bagi beliau (BTM), kritik bukanlah ancaman, melainkan sumber pembelajaran dan koreksi yang sangat berharga dalam menjalankan tugas pemerintahan.

Bagi seorang BTM, kritikan merupakan bagian penting dalam menjalankan tugas sebagai publik figur.

Tidak seperti kebanyakan pejabat yang kadang memilih melaporkan atau mengabaikan kritik, BTM justru mengundang para pengkritiknya untuk berdiskusi secara langsung.

Sikap terbuka ini, menunjukkan betapa beliau (BTM) sangat menghargai fungsi kontrol sosial dari publik. Kritik dianggap sebagai cermin bagi setiap pemimpin agar dapat terus memperbaiki diri dan menghadirkan pemerintahan yang lebih baik.

Semasa BTM menjabat Wali Kota Jayapura, Fransiskus Magai seorang aktifis, mengkritisi BTM di media sosial terkait banjir melanda Kota Jayapura.

Kritikan itu mendapat tanggapan yang beragam, hingga BTM secara terbuka melalui media massa langsung mengundangnya (Fransiskus Magai) untuk berdiskusi di Kantor Wali Kota Jayapura.

Pertemuan itu pun terjadi. Ini menunjukan bahwa BTM sosok pemimpin yang selalu terbuka untuk kritikan.

Sama halnya waktu pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Papua 2024, ada tokoh pemuda yang aktif mengkritik BTM di media sosial, tapi BTM selalu merangkul.

Contohnya, Benyamin Gurik di Kantor KPU Papua saat penetapan pasangan calon gubernur untuk PSU Pilgub Papua 2025.

Setelah acara itu, BTM memanggil Beni (sapaan akrab Benyamin Gurik), dan mereka saling bertegur sapa, tertawa bahkan BTM merangkulnya hingga foto bersama.

Sikap ini, menandakan BTM adalah orang selalu menerima kritik, tanpa harus memusuhi.

BTM memandang kritik sebagai bagian dari ruang intelektual yang mendorong berpikir kritis. Baginya, mengekspresikan ketidakpuasan secara sehat tidak boleh dibawa ke ranah pidana.

Jubir BTM-CK, Marshel Morin. (TIFAPOS/Ist)

Jika suara-suara kritis dari para intelektual, akademisi, aktivis sosial, dan pegiat media sosial dipaksa dibungkam, maka suara rakyat yang mereka wakili akan hilang. Dan, hal itu tentu akan melemahkan demokrasi serta kesejahteraan masyarakat.

Kepemimpinan BTM mengajarkan kita bahwa pemimpin sejati tidak takut pada kritik, justru menggunakannya sebagai bahan evaluasi dan dialog konstruktif. Sosoknya yang humanis dan responsif menciptakan iklim demokrasi yang sehat, di mana masyarakat merasa didengar dan dihargai.

Dengan pendekatan seperti ini, BTM membuktikan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka yang mampu memandang kritik bukan sebagai serangan, melainkan sebagai kekuatan untuk membangun pemerintahan yang lebih baik dan inklusif bagi seluruh rakyat.

 

 

(Penulis adalah juru bicara calon gubernur dan wakil gubernur Papua, BTM-CK)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *