Tim BBMKG Wilayah V menyampaikan materi tentang kegempaan dan tsunami kepada murid SD YPPK Gembala Baik Abepura. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Bangun kapasitas sekolah jadi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) melalui pelatihan pencegahan dan mitigasi.
• Sasar sekolah bertingkat karena murid lantai atas rawan panik, latih prosedur evakuasi agar tenang.
• Guru wajib dampingi murid di simulasi dan sosialisasi, integrasikan ke pembelajaran harian.
PEMERINTAH Kota Jayapura melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jayapura melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan dan kesiapsiagaan bencana tahun 2026 di SD YPPK Gembala Baik Abepura, Kamis, 26 Februari 2026.
Program ini bertujuan membangun kapasitas sekolah melalui pelatihan pencegahan dan mitigasi bencana guna mewujudkan satuan pendidikan aman (SPAB).
Sebanyak 60 murid kelas V mengikuti kegiatan yang berlangsung di sekolah bertingkat tersebut.
Para murid mendapatkan materi langsung dari berbagai pemateri kompeten di bidang kebencanaan, meliputi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V, BPBD Kota Jayapura, BPBD Provinsi Papua, serta Yayasan Papua Mandiri.
BBMKG Wilayah V menyampaikan materi tentang kegempaan dan tsunami, memberikan pemahaman mendalam kepada murid mengenai mekanisme terjadinya gempa bumi, tanda-tanda tsunami, serta langkah-langkah evakuasi yang tepat.
Sementara itu, BPBD Kota Jayapura dan BPBD Provinsi Papua secara bersama-sama menyampaikan materi pencegahan dan kesiapsiagaan bencana, sedangkan Yayasan Papua Mandiri memberikan materi pendukung terkait gempa bumi.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jayapura, Herawati, S.E menjelaskan alasan kegiatan ini menyasar sekolah bertingkat.
Menurut Herawati, sekolah bertingkat memerlukan perhatian khusus karena murid yang belajar di lantai atas berpotensi mengalami kepanikan lebih besar saat terjadi gempa bumi.
“Kami menyasar sekolah bertingkat agar murid tidak keget saat terjadi gempa. Mereka harus sudah terbiasa dengan prosedur evakuasi dan tidak panik, sehingga dapat menyelamatkan diri dengan tenang,” ujar Herawati.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kota Jayapura, Yayong Baddu, S.T., M.T menekankan pentingnya pendampingan guru kepada murid selama proses pembelajaran kebencanaan.
Yayong mengatakan guru berperan penting sebagai ujung tombak pelaksanaan SPAB di lingkungan sekolah.
“Guru harus terus mendampingi muridnya dalam setiap kegiatan simulasi dan sosialisasi ini. Pengetahuan yang diberikan hari ini harus terus dilatih dan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari,” ujar Yayong.
Dia juga mengatakan, kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Jayapura dalam membangun budaya sadar bencana sejak usia dini.
Selain itu, dengan membekali murid sejak dini, diharapkan generasi muda memiliki ketangguhan dan kemampuan merespons bencana secara tepat.
“Kami berharap melalui program ini, murid-murid dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarganya. Pengetahuan tentang pencegahan dan mitigasi bencana yang mereka peroleh hari ini dapat disebarkan kepada keluarga dan teman-temannya,” ujar Yayong.
Yayong menambahkan, program sosialisasi pencegahan dan kesiapsiagaan bencana ini akan terus berlanjut ke sekolah-sekolah lain di Kota Jayapura.
BPBD Kota Jayapura menargetkan seluruh sekolah di wilayahnya dapat terlayani dan terbangun kapasitasnya dalam menghadapi potensi bencana, mengingat wilayah Papua yang terletak di cincin api Pasifik memiliki kerentanan tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami.
“Hari ini, kami lihat antusiasme siswa tinggi, mereka bertanya banyak tentang apa yang harus dilakukan jika sirene peringatan berbunyi,” ujar Yayong.
(lrm)






