Ketua Tim Kerja Pelindungan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Papua, Anton Maturbongs menyampaikan sambutan pada kegiatan bimtek guru utama bahasa Amungme. (TIFAPOS/Istimewa)
Ringkasan Berita
• Menguatkan kapasitas guru dan masyarakat untuk melestarikan bahasa Amungme yang terancam punah.
• Mendorong generasi muda menggunakan bahasa ini di sekolah, komunitas, dan kehidupan sehari-hari.
• Revitalisasi jaga identitas suku Amungme, perkaya keberagaman Indonesia.
PELAKSANAAN Bimbingan Teknis (bimtek) Guru Utama Revitalisasi Bahasa Amungme/Amungkal berlangsung selama tiga hari di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Senin, 9 Maret 2026.
Kegiatan ini diikuti 50 peserta dari kalangan guru, tokoh adat, pegiat budaya, serta perwakilan komunitas penutur bahasa Amungme.
Bimtek ini menghadirkan materi seperti pengembangan kurikulum berbasis bahasa daerah, strategi pengajaran interaktif, dan dokumentasi lisan adat.
Bertujuan menguatkan kapasitas pelaku pendidikan dan masyarakat dalam melestarikan bahasa daerah yang kian terancam punah, bimtek ini menjadi langkah strategis pelestarian identitas budaya Papua.
Ketua Tim Kerja Pelindungan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Papua, Anton Maturbongs, menjelaskan kegiatan ini difokuskan pada penyusunan strategi revitalisasi bahasa Amungme agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.
“Tujuan utama adalah mendorong keterlibatan generasi muda dalam penggunaan bahasa Amungme di berbagai ranah kehidupan sehari-hari, mulai dari sekolah hingga komunitas adat,” ujar Anton dalam rilisnya.
Melalui bimtek ini, peserta diharapkan menjadi agen pelestarian bahasa. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pengajaran efektif, tetapi juga keterampilan menyusun materi pembelajaran berbasis bahasa daerah.
“Kami berharap bahasa Amungme tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Anton.
Kasubbag Umum Balai Bahasa Provinsi Papua, Yohanis Sanjoko, S.Pd., M.A mewakili Kepala Balai Bahasa, Valentina L. Tanate, M.Hum., menegaskan komitmen institusi dalam menggalakkan program revitalisasi bahasa daerah.
“Ini bagian dari upaya pelindungan dan pengembangan bahasa-bahasa Papua yang kaya. Peserta diharapkan mentransmisikan ilmu ini ke rekan guru di sekolah, masyarakat komunitas, dan sanggar budaya,” ujar Yohanis.
Yohanis menekankan revitalisasi bahasa daerah pada dasarnya adalah pewarisan kepada generasi muda serta pendorong penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari.
“Dengan begitu, daya hidup bahasa tetap aman dan dapat ditransmisikan antargenerasi. Pelindungan bahasa adalah tanggung jawab bersama, baik masyarakat pemilik bahasa maupun pemerintah,” ujar Yohanis.
Ia mengajak semua pihak berkolaborasi melalui komitmen dan kepedulian untuk menjaga bahasa Amungme.
Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Firo Mom Balinal, S.H., M.H. mewakili Bupati Mimika, menyoroti peran bahasa sebagai bagian integral dari hak daerah.
“Bahasa daerah dan sastra kini menjadi pilar Otonomi Khusus. Papua memiliki 248 suku bangsa dan tujuh wilayah adat seperti Mamta, Saireri, Domberai, Bomberai, Ha-Anim, La-Pago, dan Mi-Pago, masing-masing dengan bahasa dan sastra unik,” ujar Firo.
Pemerintah Kabupaten Mimika aktif mendorong kesadaran masyarakat untuk mempertahankan bahasa daerah berdasarkan amanat undang-undang.
“Kami junjung tinggi nilai jati diri orang Papua. Khazanah bahasa dan budaya harus jadi sumber daya pembangunan. Bahasa perlu didayagunakan untuk kepentingan masyarakat, dengan sikap mental positif dan kreatif sebagai tumpuan pembangunan manusia Papua,” ujar Firo.
Ia menyebut pemberdayaan di ranah agama, adat, sastra, dan budaya etnis sebagai kunci hidupnya bahasa daerah, yang menjadi warna ekspresi budaya dalam berbagai aspek.
Selain itu, kegiatan ini selaras dengan tantangan globalisasi yang mengancam bahasa minoritas.
Di Mimika, bahasa Amungme sebagai salah satu bahasa asli suku Amungme menghadapi tekanan dari bahasa Indonesia dan Inggris di lingkungan pertambangan serta pendidikan formal.
“Revitalisasi bahasa Amungme tidak hanya menjaga identitas, tapi juga memperkaya keberagaman budaya Indonesia. Melalui kolaborasi semua pihak, bahasa daerah Papua dapat terus bergema di tengah arus modernitas,” ujar Firo.
(ldr)







