Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura saat menjajakan dagangan mereka. (TIFAPOS/Istimewa)
Oleh: Adolof Musa Wamebu, Yolin Bakari, Condolisa Meilani setiawati, Hedrina Ortumilena, Nelly Kristina Alua
TEORI Akuntansi di bangku kuliah sering kali dipandang sebagai deretan angka yang kaku.
Namun, melalui mata kuliah Komunikasi dan Presentasi yang diampu Kurniawan Patma dan Maylen P. Kambuaya, kami mahasiswa Akuntansi FEB Universitas Cenderawasih (Uncen) membuktikan bahwa bisnis adalah tentang keberanian mengambil langkah nyata di lapangan.
Dalam tugas praktik kewirausahaan ini, kami sepakat menyajikan perpaduan produk sederhana, namun diminati. Keripik pisang coklat yang renyah di mulut dan es soda gembira yang menyegarkan.
Tantangan pertama dimulai di kantin FEB Uncen. Di lingkungan kampus yang akrab, kami belajar membangun kepercayaan konsumen melalui kualitas produk dan pelayanan yang ramah.
Namun, ujian sesungguhnya terjadi pada tahap kedua, saat kami diinstruksikan mencari lokasi strategis untuk berjualan di luar lingkungan kampus. Keluar dari zona nyaman kampus memaksa kami berpikir taktis.
Di dunia luar, kami tidak lagi membawa identitas sebagai mahasiswa, melainkan sebagai pelaku usaha yang harus bersaing merebut perhatian masyarakat umum. Pemilihan lokasi, ketepatan waktu, dan cara berkomunikasi menjadi penentu utama keberhasilan transaksi kami.
Melalui interaksi langsung dengan pembeli, kami menyerap tiga pelajaran fundamental yang tidak didapatkan hanya dengan membaca buku teks.
Pertama, menjalankan usaha bukan kerja individu. Kami berbagi peran secara presisi, mulai dari menjaga kualitas renyahnya pisang, meracik kesegaran soda, hingga manajemen arus kas. Tanpa komunikasi yang baik, operasional bisnis akan lumpuh.
Kedua, bisnis adalah tentang ketidakpastian. Kami belajar menghadapi risiko modal, fluktuasi harga bahan baku, hingga kemungkinan produk tidak habis terjual.
Sebagai calon akuntan, pengalaman ini memberi kami perspektif empati terhadap angka-angka kerugian yang mungkin muncul dalam laporan keuangan nantinya.
Ketiga, praktik ini membuka mata kami terhadap realitas pelaku usaha kecil. Mengelola usaha kecil ternyata membutuhkan ketahanan mental yang luar biasa. Kami menyadari bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi yang memerlukan tata kelola profesional agar bisa naik kelas.
Pengalaman berwirausaha ini mengajarkan kami bahwa ilmu akuntansi bukan sekadar seni mencatat, melainkan alat untuk mengambil keputusan dalam bisnis yang penuh risiko.
Kami berterima kasih kepada dosen pengampu, yang telah mendorong kami keluar dari ruang kelas untuk merasakan dinamika pasar yang sesungguhnya.
Langkah nyata ini adalah awal bagi kami untuk tumbuh menjadi lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh dan peka terhadap dinamika ekonomi masyarakat.
Bisnis mungkin dimulai dari renyahnya pisang coklat, namun pelajaran yang kami bawa pulang jauh lebih besar dari sekadar keuntungan materi.
(Penulis adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Cenderawasih Jayapura)
(ldr)










