Pendamping Distrik Gresi Selatan, Hermon Asmuruf menembus rimba hijau Papua, melangkah di jalur tanah berlumpur yang hanya dikenal oleh kaki‑kaki setia demi tugas mulia dalam mejangkau masyarakat di Kampung Omon agar mendapatkan layanan. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Krisis akses jalan dari jalan utama ke kampung.
• Isolasi menghambat akses pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan.
• Warga sudah lama memimpikan jalan yang layak, tetapi belum terwujud dan hanya mengandalkan jalan setapak.
KAMPUNG Omon, sebuah pemukiman kecil di Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Papua, menghadapi krisis akses jalan yang parah.
Dengan populasi 50 kepala keluarga atau 300 jiwa, kampung ini terletak 15 kilometer dari Kantor Distrik Gresi Selatan di Kampung Bangai.
Namun, tidak ada akses jalan utama yang menghubungkannya, sehingga transportasi barang dan orang menjadi mimpi buruk bagi warga mayoritas suku Elseng.
Warga Kampung Omon hanya mengandalkan jalan setapak yang sering berubah menjadi lumpur dan berlubang saat musim hujan.
Bahkan, untuk mencapai kampung yang terletak di belakang Danau Sentani, mereka harus melalui sungai berarus.
Kondisi ini telah mengisolasi kampung selama bertahun-tahun, berdampak serius pada pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat yang bergantung pada hutan untuk sagu dan berburu.
“Kami harus berjalan kaki berjam-jam untuk mencapai pasar terdekat, dan anak-anak saya tidak sekolah karena tidak ada akses jalan,” ujar Yuliana Tet, seorang warga Kampung Omon, saat ditemui di kampungnya, Kamis, 18 Desember 2025.
Keluhan ini bukan hal baru. Mimpi mendapatkan akses jalan layak telah lama terabaikan, sehingga warga hanya menggunakan jalan setapak tersebut untuk keluar masuk kampung.
Dampak isolasi terasa nyata di berbagai aspek kehidupan. Di bidang kesehatan, warga sering kesulitan mengakses Puskesmas Distrik.
Kepala Kampung Omon, Frans Tabisu, menceritakan tragedi seorang warga yang sakit meninggal saat perjalanan ke puskesmas.
Jenazahnya harus diangkut kembali dengan berjalan kaki menyusuri sungai, memakan waktu hingga 12 jam.
“Kami kehilangan nyawa karena keterlambatan penanganan medis,” ujar Tabisu.
Sektor ekonomi juga terpukul keras. Warga kesulitan menjual hasil berburu karena sulitnya akses transportasi.
“Warga Kampung Omon berharap perubahan cepat, terutama agar anak-anak kami bisa sekolah dengan mudah dan menjual hasil buruan tanpa khawatir. Kami tidak bisa baca tulis, makanya kami butuh sekolah,” tambah Tabisu.
Ia menjelaskan bahwa kampung ini telah mengajukan permohonan pembuatan jalan melalui Musrembang Kampung maupun Distrik, yang tak kunjung mendapat respons dari pemerintahan daerah.
“Kami sudah mengajukan anggaran Rp 30 miliar, namun masih harus melengkapi berkas. Kami percaya, dengan akses jalan yang layak, generasi muda bisa mendapatkan pendidikan dan membuka peluang ekonomi baru,” ujar Tabisu.
Pendamping Distrik Gresi Selatan, Hermon Asmuruf, yang telah mendampingi kampung ini selama dua tahun, mengatakan dana desa sering habis terpotong oleh regulasi sesuai peruntukannya.
“Pembangunan jalan tidak mencukupi karena alokasi dana terbatas,” ujar Asmuruf.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan lebih besar untuk mengatasi tantangan geografis dan logistik yang membuat implementasi pembangunan lambat.
Asmuruf menambahkan, Kampung Omon adalah contoh nyata bagaimana akses jalan bukan hanya soal transportasi, tetapi juga soal hak asasi manusia untuk hidup layak sehingga warga mengharapkan akses jalan yang baik sebagai pintu gerbang kemajuan.
“Tantangan ini menggarisbawahi perlunya perhatian lebih dari pemerintah untuk daerah terpencil di Papua, di mana isolasi seperti ini masih menjadi masalah umum,” ujar Asmuruf.
Selain itu, dengan kondisi geografis yang sulit, kampung ini bergantung pada hutan untuk kehidupan sehari-hari.
Namun, tanpa akses jalan, potensi ekonomi dan sosial mereka terhambat. Hermon menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.
“Ini bukan hanya masalah lokal tapi nasional. Untuk itu warta sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” ujar Asmuruf.
(ldr)







