Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, M.M membuka Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami di Kampung Holtekamp. (TIFAPOS/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Membangun budaya sadar akan bahaya bencana alam khususnya gempabumi dan tsunami.
• SLG dimulai tahun 2015 untuk memberikan pemahaman praktis dan mendalam meliputi pemahaman dasar kegempaan.
• Perkuat ketahanan komunitas dan kerja sama lintas sektor.
SUDAH satu dekade Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) hadir berperan penting dalam membangun budaya sadar akan bahaya bencana alam khususnya gempabumi dan tsunami.
Program edukasi yang digagas Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, menjadi tonggak perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih siap dan selamat dalam menghadapi bencana.
SLG yang dimulai pada tahun 2015 bertujuan memberikan pemahaman praktis dan mendalam meliputi pemahaman dasar kegempaan, mitigasi multi-bencana, simulasi evakuasi pengenalan tanda-tanda alam, hingga mekanisme evakuasi yang benar dengan melibatkan masyarakat dan aparat daerah secara langsung.
Untuk itu, BMKG Wilayah V Jayapura menggelar Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami dalam rangka 10 tahun SLG di GSG Abraham Merauje, Kampung Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, pada 15 Oktober 2025.
Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari RT/RW hingga tokoh adat dan pemerintah, sehingga seluruh lapisan masyarakat terlibat dan memiliki peran masing-masing dalam mitigasi bencana.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura, Yustus Rumakiek, S.Si mengatakan, kehadiran SLG sangat membantu menanamkan kesadaran pentingnya kesiapsiagaan.
“SLG ini dapat menurunkan risiko korban jiwa dan materiil serta mewujudkan masyarakat yang sadar serta siap menghadapi potensi bencana alam di wilayah rawan di Kampung Holtekamp,” ujar Rumakiek.
Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dr. Nelly Florida
Riama, M.Si Dr. Nelly menekankan pentingnya edukasi kebencanaan untuk meningkatkan literasi bencana sehingga masyarakat tidak hanya memahami potensi bahaya yang ada, tetapi juga mampu bertindak cepat dan tepat ketika bencana terjadi.
“Gempabumi tidak bisa dicegah, namun korban jiwa dan kerugian sosial ekonomi dapat diminimalkan melalui edukasi dan latihan mitigasi yang diberikan SLG,” ujar Nelly.
Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, M.M mengatakan, pemerintah terus menggencarkan program SLG untuk memperkuat ketahanan komunitas sekaligus menguatkan kerja sama lintas sektor.
“Diharapkan masyarakat dapat memahami bagaimana merespon gempa dan potensi tsunami. Edukasi dan kesiapan mampu menyelamatkan nyawa dan membangun ketahanan komunitas yang berkelanjutan,” ujar Rustan.
(ldr)






